Beberapa pemilik kios sedang berupaya mencari sisa dagangan yang bisa diselamatkan pasca kebakaran / Foto : Eko / Tulungagung TIMES
Beberapa pemilik kios sedang berupaya mencari sisa dagangan yang bisa diselamatkan pasca kebakaran / Foto : Eko / Tulungagung TIMES

MALANGTIMES - Perasaan sedih dan trauma dirasakan para pedagang Pasar Ngunut, Tulungagung. Pasalnya, tak banyak pedagang yang bisa menyelamatkan barang dagangannya saat kebakaran hebat terjadi, Jumat (08/11) kemarin. 

Salah satu pedagang, Eko Setiyono (40) warga Genthengan Ngunut mengaku saat kejadian dibangunkan istrinya. "Saat itu istri saya membangunkan saya sambil teriak-teriak. Mas pasare kobong, pasare kobong," ujar Eko menirukan kata-kata istrinya. 

"Saya kaget dan kemudian bangun, kebetulan saya dan mertua punya lapak di pasar, saya dan mertua berjualan konfeksi," lanjutnya. Mendengar istrinya membangunkan, Eko mengaku langsung syok lantaran melihat api sudah sangat besar. 

"Saya hanya bisa menyelamatkan sedikit dagangan saya," terangnya Kerugian yang diakibatkan oleh kebakaran itu menurut Eko sekitar Rp 5 juta. Sementara mertuanya, mengalami kerugian sekitar Rp 10 juta.

Berbeda dengan Eko, Mujinah (70) saat terjadi kebakaran masih bisa menyelamatkan seluruh dagangannya.

"Semua barang dagangan saya berupa beras, ketan kopi, kacang, termasuk kerupuk melinjo bisa diselamatkan. Untung saya dibantu anak dan kerabat mengamankan barang dagangan, Alhamdulilah semua dagangan selamat," jelasnya dengan wajah yang masih terlihat sedih.

Meski bisa menyelamatkan dagangan, sebagai sesama pedagang dirinya sangat terpukul dengan musibah yang terjadi. Nenek yang sudah puluhan tahun jualan di Pasar Ngunut itu mengaku memikirkan pedagang lain yang mengalami nasib lebih buruk darinya, seluruh dagangan yang dimiliki ludes dilalap api.

Baik Eko dan Mujinah serta pedagang lain berharap, pemerintah segera menyediakan tempat untuk berjualan lagi. "Jika Pasar Ngunut dibangun lagi semoga tempat sewanya juga tidak terlalu mahal karena sekarang pasar sepi pembeli, banyak yang jual tapi yang beli sedikit," paparnya.

Menanggapi hal itu,  Bupati Tulungagung Maryoto Birowo berencana untuk sementara waktu para pedagang akan direlokasi di jalan sekitar pasar. Mereka akan dibuatkan kios darurat untuk melakukan aktivitas dagangnya sembari menunggu pembangunan pasar selesai. 

Selain itu, mereka akan direkomendasikan untuk mendapatkan kemudahan saat mengajukan modal di perbankan.

Dari data yang dimiliki pemkab, ada sekitar 800 pedagang yang beraktivitas di Pasar Ngunut. Pemkab akan melakukan inventarisasi pedagang mengingat 70 persen bangunan pasar sudah rata dengan tanah.

Sementara itu, pembangunan Pasar Ngunut  rencananya dimulai Agustus 2020 mendatang. Anggaran untuk pembangunannya akan dibantu Pemprov Jatim melalui mekanisme bantuan keuangan (BK).

Rencana bantuan itu diungkapkan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawangsa saat meninjau Pasar Ngunut, Sabtu (9/11) dini hari tadi. "Nanti bisa mekanisme BK. Sharing-nya bisa 50 persen atau lebih," ujar wanita yang akrab disapa Budhe tersebut.

Namun, pembangunannya baru bisa dilakukan sekitar akhir  2020 nanti. Pasalnya, saat ini RAPBD sudah dibahas sehingga pembangunan akan dianggarkan pada perubahan APBD. "Sekitar Agustus, menunggu perubahan APBD," ungkapnya.