Kepala DPKPCK Kabupaten Malang Wahyu Hidayat (2 dari kiri) berpose di belakang salah satu rumah warga kurang mampu di Kedungsalam (DPKPCK for MalangTimes)
Kepala DPKPCK Kabupaten Malang Wahyu Hidayat (2 dari kiri) berpose di belakang salah satu rumah warga kurang mampu di Kedungsalam (DPKPCK for MalangTimes)

MALANGTIMES - Program bedah rumah tidak layak huni (RTLH) di Kabupaten Malang telah dimulai sejak tahun 2015 lalu. Berbagai pembangunan maupun renovasi RTLH warga tak mampu di berbagai wilayah perdesaan pun terus didorong dan dikawal Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang melalui Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Cipta Karya (DPKPCK).

Tercatat, pergumulan memberantas RTLH yang dimulai dari pengentasan kawasan kumuh di Kabupaten Malang, telah mencapai progres yang menggembirakan. Dengan target setiap tahun sekitar 1.000 unit RTLH yang dibedah, maka penuntasan atau zero rumah tak sehat akan tergapai di tahun 2021 mendatang.

Database RTLH Nasional di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR) mencatat sebanyak 4.248 unit RTLH per November 2016 lalu tersebar di 33 kecamatan. Dari kurun waktu itu, setiap tahun telah direhab sekitar 1.000 RTLH sampai saat ini. Sehingga menyisakan kisaran angka 2 ribu RTLH dalam angka Pemkab Malang.

Angka tersebut bisa saja berkurang cukup banyak dengan semakin masifnya kesadaran dalam elemen masyarakat lainnya. Baik komunitas, yayasan, sampai berbagai perusahaan swasta yang ikut serta dalam program bedah rumah.

"Setiap tahun antusias masyarakat ikut serta terjun bersama kami semakin meningkat. Ini adalah hal baik dalam menuntaskan RTLH di Kabupaten Malang," kata Wahyu Hidayat Kepala DPKPCK Kabupaten Malang, Jumat (8/11/2019).

Antusias itu juga menular di berbagai masyarakat lokasi bedah rumah yang nilainya terus diupayakan meningkat setiap tahunnya. Selain juga berbagai terobosan baru DPKPCK Kabupaten Malang terkait program bedah rumah yang bisa difungsikan sebagai homestay bagi warga di sekitaran lokasi wisata.

"Antusias dan gotong royong dalam program bedah rumah dari masyarakat sekitar semakin meningkat. Ini sebenarnya yang memang jadi goal pemerintah di program ini. Yakni, menumbuhkan kerjasama dan gotong royong dalam membangun dan membantu sekitarnya," ujar Wahyu.

Hal ini terlihat dari berbagai bedah rumah di wilayah perdesaan, seperti yang beberapa waktu lalu di Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo. Dimana, program bedah rumah dengan jumlah 31 unit dilakukan dalam waktu yang terbilang singkat, yaitu sekitar satu bulan.
31 RTLH warga di Kedungsalam itu mampu dikerjakan cepat dikarenakan seluruh warga bersama TNI bahu membahu menyelesaikannya. Gotong royong dan kebersamaan menjadi nafas warga untuk saling menguatkan nilai luhur tersebut.

"Lewat gotong royong maka berbagai program pemerintahan pun akan cepat terwujud dan terselesaikan. Di sisi anggaran pun yang kerap jadi kendala kita, bisa teratasi dalam program bedah rumah ini," ucap Wahyu.

Seperti diketahui, anggaran bedah rumah berasal dari APBN dan APBD Kabupaten Malang. Plus dengan semakin tumbuhnya kelompok masyarakat dan perusahaan dalam program itu, membuat, bedah rumah bisa terselesaikan secara cepat juga.

Dengan adanya sikap gotong royong dalam masyarakat dan terlibat secara langsung membantu bedah rumah, secara langsung akan memangkas berbagai ongkos tukang yang nilainya juga saat ini terbilang tinggi. 

Wahyu juga mengatakan, bahwa sebenarnya anggaran daerah untuk bedah rumah memang sebagai stimulus pada awalnya. "Stimulus bagi seluruh masyarakat untuk ikut serta ikut dalam pembangunan. Karena dengan anggaran per unit Rp 10-15 juta memang kalau tak ada kebersamaan, berat," ucapnya yang menutup pembicaraan, bahwa pihaknya memang berharap banyak program bedah rumah mampu jadi ruang tumbuh kuatnya gotong royong dan kebersamaan masyarakat.