Karena Tiga Alasan Ini, Unikama Gelar Pertunjukan Wayang Kulit Semalam Suntuk

MALANGTIMES - Suasana di halaman Gedung Rektorat Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama), malam ini (6/11/2019) nampak semarak. Di sana terdengar suara-suara khas gamelan menggema di Kampus Multikultural tersebut.

Suara-suara gamelan itu bakal menemani dan mengiringi aksi dalang memainkan wayang dalam cerita penuh makna dalam lakon Udowo Waris. Ya saat ini, di Unikama memang tengah digelar pertunjukan wayang semalam suntuk.

Ketua Perkumpulan Pembina Lembaga Pendidikan Tinggi Persatuan Guru Republik Indonesia (PPLPPTPGRI), Drs. H. Soedja'i menjelaskan jika, kegiatan pertunjukan budaya kearifan lokal seni pagelaran wayang kulit ini, dilaksanakan sesuai dengan predikat kampus multikultur yang melekat di Unikama. Kegiatan ini, juga telah berlangsung selama beberapa kali.

Lebih lanjut dijelaskan Soedja'i, jika digelarnya pertunjukan wayang kulit semalam suntuk ini juga mempunyai tiga hal yang mendasari digelarnya kegiatan tersebut.

"Yang pertama adalah untuk memperingati hari wayang nasional, sebagaimana kita ketahui tanggal 7 november, merupakan hari wayang nasional dan harus diperingati sedemikian rupa," jelasnya. 

Dilanjutkannya, alasan yang kedua digelarnya pertunjukan wayang kulit ini, juga merupakan sebagai salah satu wujud memperingati Hari Jadi PGRI ke 74. Kemudian yang ketiga adalah wujud rasa syukur Unikama mengalami kenaikan peringkat lebih baik lagi dari pada sebelumnya.

"Acara ini untuk umum dan setiap tahun selalu diupayakan untuk diadakan," katanya

Rektor Unikama, Dr. Pieter Sahertian, menambahkan, jika saat ini perlu mewarisi budaya nasional yang di dalamnya terdapat nilai kearifan lokal. Sehingga budaya-budaya yang memiliki nilai kearifan lokal tersebut tetap ada dan tidak punah di era revolusi industri 4.0.

"Jangan sampai suatu saat nanti kita kehilangan budaya itu, nilai-nilai, budaya ini harus diteruskan harus ada yang mewarisi. Karena yang kita khawatirkan menonton wayang itu adalah hal mahal. Artinya ketika kita tidak mewarisi, kita akan menonton wayang  di Belanda, kita akan nonton wayang di Amerika. Kenapa karena kita tidak meneruskan, karena itu, kita ingin generasi muda ini tidak meninggalkan nilai kearifan lokal," pungkasnya. 

Top