Dari Jelangkung, Keris, hingga Bambu Pentung, Ungkapan Culture Shock Para Seniman dalam Novart 2019

MALANGTIMES - Gegar budaya atau culture shock dimaknai beragam oleh para seniman yang terpilih memamerkan karyanya dalam gelaran Novart 2019 yang digelar mulai Selasa hingga Kamis (5-7/11/2019) di Sasana Krida Universitas Negeri Malang (UM).

Event yang digelar oleh HMJ Seni dan Desain UM ini menghimpun sejumlah 36 karya seni mahasiswa dan seniman pada umumnya.

Bertajuk MBLEDOSS, para seniman mengungkapkan pemaknaan culture shock dalam karya-karya 2 dimensi, 3 dimensi, hingga instalasi.

Salah satu karya yang cukup menarik perhatian pengunjung adalah karya instalasi "Jailangkung Kontradiksi". Para pengunjung pun silih berganti mencoba memainkan Jelangkung tersebut melalui remot kontrol yang disediakan.

Karya yang dibuat Mukhamad Aji Prasetyo ini adalah penggabungan hal kontradiksi antara teknologi dan permainan tradisional. Dua hal yang berbeda namun mampu dijadikan satu menjadi unsur permainan tradisional modern.

Karya lain yang juga menarik perhatian adalah karya 2 dimensi yang dibuat oleh Risqi Maulana berjudul "Tindak Tanduk". Dalam karyanya, terdapat gambar keris, bambu petung, huruf arab, dan lain-lain.

Karya ini juga sempat menarik perhatian Dosen Seni dan Desain UM, Andreas Syah Pahlevi SSn MSn.

"Dia seperti menawarkan simbol-simbol yang kita impor. Ada culture yang tergabung dalam satu frame ini. Terasa banget Persia, Kejawen juga," ucapnya kepada MalangTIMES.

Menurut persepsi Andreas, bisa saja karya itu menyampaikan sifat manusia yang kadang lupa diri.

"Kalau persepsi yang saya baca, orang itu lupa diri kadang. Satu hal itu kita agungkan tapi sebenarnya itu adalah benda saja sebenarnya," tuturnya.

Contohnya seperti keris atau bambu petung yang dianggap jimat dan kini dijual sampai miliaran rupiah.

"Ini simbol culture yang diagungkan. Mungkin si pelukis, Risqi Maulana ini ingin menawarkan bahwa dalam setiap objek memiliki kisahnya sendiri untuk menandai zamannya. Jadi dia tawarkan simbol-simbol itu sebagai objek budaya yang dimaknai sebagai penanda zaman," bebernya.

Selain "Tindak Tanduk", Andreas juga tertarik dengan karya "Another Pahlawan Tanpa Tanda Jasa" milik Mock Rizki Nugroho.

Andreas menyampaikan, Rizki melihat perspektif shock culture dari perspektif guru.

"Ini menarik. Jadi dia melihat figur guru ini multifungsi kalau dibilang. Ada potongan-potongan kehidupan yang dia rangkai menjadi satu frame. Nah, teksnya itu memaksa kita untuk saling menghubungkan kata-kata yang dia tulis, yang dia tempelkan, apa yang sebetulnya dia sedang ceritakan," paparnya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Novart 2019 Ilham Kurniawan menyampaikan, tema culture shock diambil lantaran relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.

"Kita sedang di era revolusi industri 4.0. Sedangkan yang kita alami sekarang, tidak semua bisa menerima industri 4.0. Masing-masing kita sudah pernah mengalami kejadian-kejadian yang membuat kita kaget. Entah itu dari sisi teknologi, kehidupan masyarakat, atau sisi-sisi yang lain," pungkas mahasiswa Jurusan Seni Rupa 2017 tersebut.

Top