Awas, Banyak Obat Ilegal dan Membahayakan Beredar, Polisi Tangkap Tiga Tersangka

MALANGTIMES - Polres Malang berhasil meringkus tiga orang yang terlibat jaringan peredaran sekaligus pembuatan obat ilegal dan membahayakan. Ketiga tersangka ini memiliki peran masing-masing. Ada yang bertugas sebagai pengecer, distributor, hingga produsen.

Adalah Siswandi warga Jalan Janti Barat, Kelurahan Bandungrejosari, Kecamatan Sukun, Kota Malang yang berperan sebagai pengecer. Pria 69 tahun itu mendapatkan pasokan obat dan jamu kesehatan yang tidak mengantongi izin resmi dari Suyadi alias Bobi, warga Dusun Prangas, Desa Klepu, Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe), Kabupaten Malang. Pria 49 tahun itu juga berperan sebagai distributor.

Sedangkan obat ilegal yang didistribusikannya berasal dari Sholeh Aziz, warga Perum Tirtasani Estate, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Pria 56 tahun itu bertugas sebagai produsen ribuan obat dan jamu yang dijual oleh Siswandi dan Bobi.

”Obat yang diproduksi sekaligus dijual di pasaran ini tergolong ilegal dan membahayakan. Ratusan obat itu tidak memiliki izin sama sekali, baik izin edar, BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan), maupun perizinan terkait kesehatan,” kata Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung saat ditemui awak media ketika sesi rilis di halaman Mapolres Malang, Rabu (6/11/2019) siang.

Terungkapnya kasus ini, lanjut Ujung, bermula dari hasil penelusuran petugas Unit Reskrim Polres Malang bahwa di wilayah Kabupaten Malang marak ditemukan obat-obatan yang tidak mengantongi izin sama sekali. Setelah beberapa waktu didalami, pada Minggu (3/11/2019) lalu, polisi akhirnya berhasil mengendus keberadaan pengedar obat terlarang tersebut. Tersangkanya adalah Siswandi.

Ketika diamankan, Suwandi mengaku mendapatkan pasokan dari tersangka Bobi. Berawal dari pengakuan itulah, polisi akhirnya melakukan pengembangan dan berhasil mengamankan Bobi di kediamannya yang berlokasi di Kecamatan Sumawe.

Di hadapan penyidik, Bobi bernyanyi  obat yang didistribusikannya berasal dari Sholeh Aziz. Pada hari bersamaan, polisi akhirnya berhasil mengamankan tersangka di rumah sekaligus tempat produksinya yang berada di Kecamatan Singosari.

”Obat ini diproduksi secara asal-asalan. Tersangka yang berperan sebagai produsen hanya mencampurkan berbagai obat. Bahan bakunya sebagian ada yang dibeli dari apotik, kemudian dicampur dengan berbagai ramuan lainnya,” terang Ujung.

Meski tidak memiliki kemahiran meracik obat, komplotan yang tidak berasal dari latar belakang apoteker dan dokter ini nyatanya sudah  membuat ratusan jenis obat ilegal dan membahayakan.

Ratusan obat itu sebagian besar dilabeli obat kesehatan. Bentuknya juga beraneka ragam, ada yang berupa kapsul, pil, tablet hingga cairan.

Harganya juga bervariatif. Ada yang dijual Rp 750 rupiah hingga puluhan ribu. Sedangkan kegunaannya diakui tersangka sebagai obat untuk menyembuhkan beragam penyakit. Mulai dari sakit mata, obat kejantanan pria, pil KB hingga reumatik dan lain sebagainya.

”Komplotan ini juga membuat dan menjual obat keras. Itu sangat membahayakan. Seperti yang diketahui, kalau memang obat keras harusnya tidak boleh dijual secara bebas. Harus sesuai petunjuk dan resep dokter. Tapi ini jelas-jelas dilabeli oleh mereka sebagai obat keras, namun dijual bebas. Sangat membahayakan konsumen,” ungkap perwira polisi dengan pangkat dua melati di bahu ini.

Ratusan obat ilegal yang sebagian besar sudah beredar dan disita polisi ini terdiri dari berbagai merek. Di antaranya obat merek asam urat, obat kuat merek Urat Madu, Esepuh, Pasama, obat tiruan Pilkita, obat antialergi Spesial, spesial flu tulang, obat sakit gigi Cespleng, manjur asam urat super, alergi farmasi Adi Irawan, flu tulang Sido Waras, asam urat Super, hingga obat sakit gigi Sido Waras.

Obat-obatan tersebut dijual dalam bentuk pil, tablet, kaspus, hingga berbentuk cairan. Sedangkan untuk obat berbentuk jamu, di antaranya bermerek jamu cap raja tawon, sido waras/plentu, sapu jagat, raja tawon, hingga pronojiwo.

Tidak hanya itu. Polisi juga menyita beberapa macam obat keras dengan berbagai merek. Diantaranya obat keras bermerek mitamizole sodium, ampicilin, mefenamic acid, pil KB 1 Kombinasi, novacyciline, dan amoxicylin.

”Ratusan obat berbagai jenis ini, kami amankan dari gudang penyimpanan di tempat produksi hingga di rumah tersangka yang berperan sebagai pengecer dan distributor,” sambung Ujung.

Selain mengamankan ratusan obat, anggota korps berseragam cokelat ini juga menyita beberapa kendaraan yang digunakan untuk sarana memasarkan obat ilegal. Yakni dua unit mobil dan satu unit sepeda motor. Guna kepentingan penyidikan, polisi jua menyita uang hasil penjualan senilai Rp 900 ribu.

”Akibat perbuatannya, ketiga tersangka kami jerat dengan pasal 196 juncto pasal 197 Undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan. Sedangkan ancamannya maksimal 15 kurungan penjara, serta denda senilai Rp 1,5 milkar,” tutup Ujung.

 

Top