Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Pengembangan Lembaga UIN Malang, Dr Uril Bahruddin MA saat membuka gelaran AICOLLIM di Home Theatre Fakultas Humaniora. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)
Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Pengembangan Lembaga UIN Malang, Dr Uril Bahruddin MA saat membuka gelaran AICOLLIM di Home Theatre Fakultas Humaniora. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Di negara Arab Saudi, sastra dijunjung tinggi. Bahkan, orang Arab menempatkan sastra sebagai salah satu di antara sumber berbahasa.

Hal ini disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Pengembangan Lembaga Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang), Dr Uril Bahruddin MA saat membuka Annual International Conference on Language, Literature, and Media (AICOLLIM) di Home Theatre, Gedung Fakultas Humaniora UIN Malang, Selasa (5/11/2019).

Baca Juga : KITAB INGATAN 101

"Saya memahami sastra sebagai sebuah alat untuk menjaga bahasa. Kalau tidak ada sastra, kira-kira bahasa ini sudah akan rusak. Karena itulah orang Arab menempatkan sastra menjadi salah satu di antara sumber berbahasa," ucapnya.

Dalam dunia sastra Arab, katanya, sastra juga menjadi sebuah penjaga peradaban, yakni penjaga nilai-nilai di masyarakat.

"Makanya dalam dunia sastra Arab, para sastrawan Arab kalau berlomba dan menang maka yang menang ini kemudian karya sastranya ini ditempelkam di Ka'bah. Dan itu menjadi kebanggaan baginya," paparnya.

Jadi, di samping sastra sebagai penjaga bahasa, sastra juga berfungsi sebagai penjaga budaya. Mulai dari adat, kebiasaan, dan juga nilai-nilai yang ada.

Sementara bahasa itu sendiri menjadi penting lantaran bukan hanya sekadar alat komunikasi, melainkan sebagai identitas.

"Baik itu identitas pribadi atau identitas masyarakat," imbuh Uril.

Kemajuan sebuah masyarakat bisa dilihat dari kemajuan bahasanya. Semakin tertinggal sebuah masyarakat juga bisa dilihat dari sisi bahasanya.

"Sehingga bahasa ini merupakan identitas atau cermin bagi sebuah bangsa atau sebuah masyarakat," tandasnya.

Baca Juga : KITAB INGATAN 100

Meski demikian, di era digital ini, penguasaan bahasa dan sastra tak akan ada artinya jika manusia tidak berinovasi dalam hal media.

"Kalau kita tidak punya inovasi-inovasi yang spektakuler maka kita akan ditinggal oleh mereka yang sebenarnya tidak punya kemampuan bahasa tapi inovasi mereka luar biasa. Maka peran-peran kita terpinggirkan," paparnya.

Media sendiri sifatnya selalu berkembang. Uril menegaskan, barang siapa di antara kita yang belajar bahasa dan sastra namun tidak mengikuti perkembangan media, maka jelas akan tertinggal.

"Kalau kemudian kita tidak punya inovasi-inovasi yang luar biasa, saya yakin akan digilas oleh orang-orang yang tidak paham bahasa tetapi karena mereka punya inovasi yang luar biasa maka akhirnya mereka akan menguasai kita dan kita akan ketinggalan di belakang," pungkasnya.