Penuh Damai, UIN Malang Adalah Kampus Multikultural

MALANGTIMES - Model pendidikan yang dapat memberi sumbangsih terhadap penciptaan perdamaian adalah model pendidikan pluralis-multikultural.

Model pendidikan ini juga diterapkan dalam rangka upaya menanggulangi konflik yang menyinggung tentang perbedaan SARA yang ada di masyarakat. Sebab, nilai dasar dari pendidikan ini adalah penanaman dan pembumian nilai toleransi, empati, simpati dan solidaritas sosial.

Diterapkannya pendidikan multikultural juga salah satu upaya untuk memupuk rasa toleransi beragama.

Nah, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) merupakan kampus yang berhasil menerapkan pendidikan multikultural ini. Ini tampak jelas dengan adanya berbagai mahasiswa dari daerah dalam negeri dan luar negeri yang berbeda-beda.

Hal itu disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama UIN Malang, Dr H Isroqunnajah MAg dalam Simposium Kebhinekaan Festival Budaya di Aula Rektorat UIN Malang, Jumat (1/11/2019).

"Untuk menangani hal ini, UIN Malang telah memiliki dua masjid dengan bahasa khutbah Jumat yang berbeda. Satu dengan bahasa Indonesia, sedang yang lain berbahasa Arab dan Inggris," bebernya.

Gus Is juga mengungkap adanya beragam madzhab yang diafiliasikan oleh mahasiswa UIN Malang.

"Madzhabnya sudah tidak lagi madzhab empat, tapi sudah madzhab lima. Jadi ada yang berafiliasi pada madzhab Syafi’i, Maliki, Hanafi, Hambali, sampai pada madzhab Syi’i," paparnya.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Is juga memberikan apresiasi pada Senat Fakultas Humaniora untuk acara yang menguatkan kebhinekaan ini.

"Kami berikan apresiasi yang luar biasa kepada Senat Mahasiswa Fakultas Humaniora. Dan kami harapkan kegiatan ini senantiasa melembaga," ujarnya.

Adapun acara Festival Budaya akan berakhir pada Jumat malam (1/11/2019) nanti dengan penampilan The Godfather of Broken Heart Didi Kempot dalam Intimate Ambyar Concert.

Top