Oktober, Kota Malang Catat Deflasi -0,04 Persen

MALANGTIMES - Kota Malang tercatat masih mengalami deflasi pada  Oktober 2019. Dari catatan Badan Pusat Statistik (BPS), deflasi tersebut sebesar cenderung mengalami kenaikan dari September sebesar -0,03 persen menjadi -0,04 persen.

Angka deflasi Kota Malang ini berada di urutan ketiga se-Jawa Timur (Jatim) setelah Banyuwangi dan Surabaya. Penurunan harga  komoditas bahan makanan menjadi penyebab yang dominan untuk deflasi kali ini.

Kepala BPS Kota Malang Sunaryo mengatakan, angka deflasi di Kota Malang dinilai masih relatif terkendali. Adapun penyumbang deflasi itu karena adanya penurunan harga di kelompok bahan makanan.

"Angka kita masih relatif terkendali dan aman karena menurun komulatif di bawah nasional. Untuk pemicumya, yang terutama itu penurunan di komoditas  telur ayam ras, cabai rawit, dan daging ayam ras," ujar dia saat press release di aula BPS Kota Malang, Jumat (1/11).

Rinciannya, telur ayam ras mengalami penurunan harga mencapai 9,16 persen, cabai rawit 16,54 persen, dan daging ayam ras  3,18 persen. Selain itu, komoditas sandang menjadi penyebab kedua deflasi Kota Malang. "Di kelompok sandang itu, emas perhiasan menurun 2,46 persen," imbuhnya. 

Penurunan harga di beberapa komoditas bahan makanan tersebut disinyalir karena masyarakat Kota Malang yang mengonsumsi juga relatif banyak. Dan hingga Oktober ini, bahan makanan terus menunjukkan penurunan harga.

"Bahan makanan ini memberikan bobot konsumsi yang besar sehingga andilnya juga cukup besar. Demikian kelompok lainnya, angka kebutuhan pokok menunjukkan kenaikan konklusinya menjadi kenaikan inflasi. Tapi sampai Oktober bahan makanan masih menunjukkan penurunan," papar Sunaryo.

Di sisi lain, ada komoditas-komoditas lain yang menghambat laju deflasi. Di antaranya bagian transportasi angkutan udara sebesar 3,60 persen, bidang kesehatan obat dengan resep sebesar 5,24 persen, rokok kretek filter 0,72 persen.

Kemudian komoditas lainnya seperti batu bata, bayam, tauge, udang basah, ketimun, cabai merah, dan cumi-cumi juga menjadi penghambat deflasi.

Meski mengalami deflasi, Sunaryo meminta kepada pemerintah untuk tetap waspada. Itu lantaran di musim kemarau panjang ini, kenaikan harga kemungkinan akan terus terjadi. Hal itu dipicu keterbatasan stok bahan pangan.

"Yang perlu diwaspadai tetap bagaimana menyediakan stok pangan yang cukup. Sehingga bisa mengantisipaso dampak dari kemarau panjang dalam menyongsong akhir tahun," pungkasnya.

Top