Suasana ketika jenasah korban yang meninggal karena diduga dianiaya ayah tirinya saat tiba di rumah duka.
Suasana ketika jenasah korban yang meninggal karena diduga dianiaya ayah tirinya saat tiba di rumah duka.

MALANGTIMES - Suasana haru menyelimuti prosesi pemakaman Agnes Arnelita. Bocah 3 tahun itu tewas mengenaskan lantaran diduga dianiaya oleh ayah tirinya sendiri. 

Usai diotopsi, jenazah dibawa ke rumah keluarga besarnya untuk di kebumikan di pemakaman yang berlokasi di Dusun Tubo, Desa Purwosekar, Kecamatan Tajinan, Kamis (31/10/2019) petang.

Dari pendalaman MalangTIMES.com, semenjak awal sirine ambulan terdengar. 

Keluarga beserta tetangga korban, menyambutnya dengan suasana haru saat mengetahui kedatangan jenasah gadis mungil itu.

Bahkan, beberapa anggota keluarga, juga sempat menangis tersedu-sedu lantaran tak kuasa melihat jenazah Agnes yang telah terbujur kaku tersebut. 

”Sebelum meninggal, saya sudah sering menemukan luka gosong (memar) disekujur tubuhnya. Luka itu saya temukan saat memandikan dia, lukanya di lengan, jidat, dan pipi. Ketika ditanya, katanya bekas dicubit oleh ayahnya,” kata Bibik korban, Finarti saat ditemui MalangTIMES.com di rumah duka, Kamis (31/10/2019) malam.

Dengan raut wajah yang menunjukkan ekspresi prihatin sekaligus sedih, Finarti mencoba mengulang kembali cerita sebelum keponakannya itu pulang tinggal nama. 

”Kalau orang tuanya libur, korban selalu diajak ke rumah mereka. Biasanya ya pas akhir pekan,” terang Finarti.

Namun, saat sudah mulai aktif bekerja, lanjut Finarti, korban dibawa ke rumah neneknya yang berlokasi di Dusun Tubo, Desa Purwosekar, Kecamatan Tajinan. 

”Sekitar dua hari disana (rumah orang tuanya), korban biasanya dibawa kesini kembali untuk dititipkan,” ungkap Finarti.

Tapi rutinitas itu berbeda dengan awal pekan ini, meski awal pekan sudah terlewat dua hari.

Namun, Agnes tidak kunjung dibawa ke rumah keluarga besar ibunya yang ada di Kecamatan Tajinan. 

Baru pada hari Rabu (30/10/2019), Finarti dan keluarganya mendapat kabar dari Hermin Susanti (ibu kandung korban), jika Agnes sudah meninggal dunia. 

”Kami dikabari jika Agnes sudah meninggal, bahkan jenasahnya sudah diurus dan tinggal dikebumikan,” tutur Finarti.

Merasa ada yang janggal, pihak keluarga besar akhirnya memutuskan untuk memeriksa tubuh korban. 

Benar saja, saat dimandikan keluarga menemukan beberapa luka lebam di sekujur tubuh mungil balita tersebut.

”Setelah melalui kesepakatan keluarga, kami akhirnya memutuskan untuk melaporkan kejanggalan kematian korban ke Polsek Tajinan. Tujuannya untuk mencari tahu penyebab kematiannya,” ujar Finarti.

Seperti diberitakan, semula Agnes dikabarkan meninggal karena tenggelam di bak mandi rumahnya yang beralamat di Perum Tlogowaru Indah D-14, Kedungkandang, Kota Malang. 

Saat itu di rumahnya, ada Ery Age Anwar (ayah tiri korban) yang juga menjaga adik Agnes.

Namun, ketika jenazah dibawa pulang dari RS Refa Husada ke rumah neneknya yang beralamat di Kecamatan Tajinan. 

Pihak keluarga mendapati banyak luka lebam disekujur tubuh bocah itu. 

Merasa ada yang janggal, kasus ini akhirnya dilaporkan ke pihak kepolisian.

Guna kepentingan penyidikan, Polresta Malang akhirnya membawa jenazah Agnes ke RS Saiful Anwar untuk diotopsi. 

Hasilnya menunjukkan jika korban Agnes meninggal karena luka robek di lambung, yang mengakibatkan pendarahan lantaran mengalami tekanan yang cukup keras. 

Selain itu, petugas medis juga menemukan beberapa luka lebam di punggung, leher, pelipis dan kaki serta ada luka bakar di area kaki.