Puluhan Kartun Anti-Korupsi Mejeng di Balai Kota Malang, Bentuk Perangi Korupsi

MALANGTIMES - Ada pemandangan berbeda saat memasuki kawasan Balai Kota Malang hari ini (Kamis, 31/10). Mulai dari area lobi hingga lantai 2 balai kota dipenuhi karya puluhan kartunis se-Indonesia.

Sebanyak 80 karya seniman kartun se-Indonesia ini mejeng dengan beragam bentuk di papan penyangga. Tak ayal, hal itu cukup menarik perhatian orang-orang yang lalu lalang di area Balai Kota Malang. Bahkan Wali Kota Malang Sutiaji secara khusus juga ikut melihat-lihat pameran kartun bertajuk Saweran Kartun tersebut.

"Kartun ini luar biasa sentuhannya dan kritik sosialnya. Mudah-mudahan yang melihat ini bisa berintrospeksi dan juga bisa menjalankan apa yang dilihat itu," ujar dia.

Menurut Sutiaji, media seni kartun menjadi salah satu alat dalam memerangi korupsi. Apalagi, gelaran yang dilaksanakan selama tiga hari ke depan, yakni mulai Kamis (31/10) hingga Sabtu (2/11) tersebut, bakal juga menghadirkan anak-anak sekolah ke Balai Kota Malang.

"Ini sebagai salah satu bentuk penguatan karakter pendidikan anak. Anak-anak sekolah akan digerakkan ke sini. Kalau perang terhadap yang tua, agak susah.vtapi harapan kami ada di anak bangsa. Kita akan kuatkan itu (perang terhadap korupsi)," imbuhnya.

Bahkan, pemkot juga siap jika ke depan karya seniman-seniman kartun tersebut bakal dikumpulkan dan dibuat dalam bentuk buku. Hal itu bisa menjadi salah satu media pembelajaran bagi siswa-siswi sekolah di Kota Malang untuk pelajaran anti-korupsi sejak dini.

"Nanti saya akan kerja sama dengan teman-teman kartunis ini. Jika dibukukan, itu akan jadi bahan ajar bagi anak-anak sekolah dasar. Apalagi ini tidak ada satu pun yang mengandung unsur kekerasan. Artinya bisa disaksikan semua umur," tandasnya.

Sementara itu, ketua pelaksana Saweran Kartun Ke-2 Wirastho menyatakan pameran kartun tersebut menghadirkan karya-karya kartunis dari berbagai daerah se-Indonesia. Peserta di antaranya dari Kota Malang, Jogja, Aceh, Bandung, Bali, Solo, Semarang, dan Surabaya.

Wirastho  berharap, hal ini menjadi salah satu media kritik bagi aparatur pemerintah untuk evaluasi kinerja birokrat di Pemerintahan Kota Malang, dan media komunikasi lintas daerah.

"Kartunis ini bisa menjadi bagian dari kontrol sosial dan mengomunikasikan apa yang dikehendaki rakyat kepada pemerintah. Sekaligus ini sebagai salah satu bentuk pendidikan bagi siapa pun, " ungkapnya.

Top