Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU, KH Agus Sunyoto. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)
Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU, KH Agus Sunyoto. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Ketua  Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU  KH Agus Sunyoto MPd mengktitik kebijakan pemerintah soal pendidikan dan kebudayaan. Dia menyoroti pendidikan yang diletakkan di atas kebudayaan serta penggabungan keduanya dalam satu kementerian.

Hal ini disampaikan Agus Sunyoto belum lama ini saat ditemui di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim  (UIN Maliki) Malang. "Pendidikan di atas kebudayaan. Ini kebijakan yang fatal karena kebudayaan itu nomor satu," ucapnya.

Dari kebudayaan, menurut Agus,  nanti lahir hukum, politik, tata negara, hukum, ekonomi, termasuk pendidikan. Semua itu di bawah atau bagian dari budaya.

"Budaya dulu, baru nanti ada pendidikan, hukum, tata negara, politik, ekonomi. Sebab, itu hasil budaya semua. Bukan budaya di bawah pendidikan, akhirnya kacau seperti yang sekarang ini. Tidak manusiawi," tandasnya.

Selama ini, pendidikan memang jauh lebih diprioritaskan dibandingkan kebudayaan. Itu sebabnya, dana untuk pendidikan sekolah mencapai Rp 800 triliun. Sementara untuk kebudayaan hanya Rp 1,5 triliun. "Kebudayaan di bawah pendidikan itu sudah salah total," ucapnya lagi.

"Akhirnya ketika bicara soal pendidikan karakter, hanya pada tingkat konseptual, tingkat angan-angan, tidak pernah terwujud," imbuhnya.

Menurut Agus, pemerintah tidak bisa bicara soal karakter apabila logika pertama saja sudah salah. Terlebih lagi, dengan dilantiknya Nadiem Makarim sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan, Agus menilai pendidikan ke depan dianggap seperti mekanik.

"Memang murid-murid dan mahasiswa-mahasiswa itu mesin? Bukan. Kalau dikelola seperti mesin, malah kacau. Kita malah mau diseragamkan. Selama ini pendidikan kita sudah salah kok," ungkapnya.

Agus berpendapat, Nadiem akan mengacaukan pendidikan di Indonesia. Salah satu alasannya karena dia tidak memiliki basic pendidikan. Untuk itu, pembinaan karakter juga tidak akan berhasil.

"Pembinaan karakter bagaimana wong dia tidak paham tentang pendidikan. Selama ini digembar-gemborkan Jokowi adalah pendidikan karakter. Faktanya apa? Konsepnya apa? Tidak ada," ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan Agus, Indonesia merupakan bangsa yang berada di wilayah Kepulauan Nusantara. Untuk itu, harusnya konsep pendidikan di Indonesia mengikuti model pendidikan seperti Jepang atau Inggris.

"Selama ini tidak. Konsep yang diterapkan adalah konsep pendidikan kontinental," ucapnya.

Seperti yang diketahui, di Indonesia ujian akhir nasional disamaratakan. Padahal Indonesia adalah negara kepulauan, bukan kontinental.

"Akhirnya, yang paling diuntungkan ya cuma kota-kota besar. Itu sebabnya yang paling berhasil, nilainya yang paling bagus, dalam ujian akhir nasional ya pasti orang Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang. Tidak mungkin Papua, Sulawesi, Maluku, NTT," paparnya.

Bagi Agus, pendidikan butuh konsep yang memanusiakan manusia. Sementara pengelolaan pendidikan ke depan kemungkinan besar akan jauh dari konsep kemanusiaan tersebut.

"Sejak awal saja sudah keliru. Apalagi nanti akan dilakukan proses pengelolaan secara mekanik," pungkas nya.