Ketua Lesbumi PBNU Agus Sunyoto dalam pembukaan Festival Budaya 2019 UIN Malang. (Foto: ImarotulIzzah/MalangTIMES)
Ketua Lesbumi PBNU Agus Sunyoto dalam pembukaan Festival Budaya 2019 UIN Malang. (Foto: ImarotulIzzah/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Pendiri sekaligus mantan CEO Gojek Nadiem Makarim telah resmi menjadi menteri pendidikan dan kebudayaan (mendikbud) periode 2019-2024. Dipilihnya Nadiem oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) masih menjadi perbincangan hangat masyarakat hingga saat ini.

Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU KH Agus Sunyoto MPd menyatakan, di bawah kepemimpinan Nadiem, pendidikan Indonesia ke depan bisa saja menjadi kacau. Sebab, Nadiem tidak memiliki basic pendidikan.

Hal ini disampaikannya dalam Pembukaan Festival Budaya 2019 "Merawat Nusantara dengan Bahasa, Sastra dan Budaya" Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Humaniora Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) di gedung Rektorat UIN, Senin (28/10/2019).

"Kita sudah paham bahwa mendikbud sekarang ini orang yang tidak punya latar pendidikan. Dia hanya dicetak untuk mencetak teknologi teknokrat, bukan untuk mencetak manusia," ucapnya.

Menurut Agus, nasib pendidikan di Indonesia akan menjadi semakin kacau lantaran menganggap pendidikan layaknya mekanik. Di bawah kepemimpinan Nadiem, 300 ribu sekolah akan dikelola layaknya Gojek.

"Memangnya murid-murid dan mahasiswa-mahasiswa itu mesin? Bukan! Kalau dikelola seperti mesin, malah kacau," ucapnya.

Bagi Agus, hal ini malah akan menjadi problem besar. Sebab, baginya, ini adalah masalah pendidikan, bukan masalah mekanis.

Selain itu, kebijakan Nadiem yang akan mendatangkan teknokrat-teknokrat dari luar dianggap akan menyebabkan disrupsi. Nah, korban pertama adalah perguruan tinggi.

"Kita kemungkinan akan mendatangkan teknokrat-teknokrat dari Amerika, China, India, dari mana-mana untuk mengajari orang orang Indonesia di sini. Itu kan akan terjadi disruption, perubahan besar. Sedangkan kita lihat nanti korban pertama pasti kampus karena tidak dibutuhkan lagi. Jadi, diganti tenaga luar semuanya," bebernya.

Untuk itu, Agus meminta agar insan pendidikan bersiap-siap lantaran semua akan dikirim ke era globalisasi.