Aktivis PMII Kota Malang menggelar Shalat Gaib di depan Balaikota Malang, Selasa (29/9/2015)
Aktivis PMII Kota Malang menggelar Shalat Gaib di depan Balaikota Malang, Selasa (29/9/2015)

MALANGTIMES - Dalam aksi yang dilakukan Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Malang, mereka menuntut empat hal agar tragedi pelanggaran kemanusiaan dan HAM tidak terulang kembali.

Ada empat tuntutan yang disampaikan dalam aksi yang berlangsung di depan Balaikota Malang itu, Selasa (29/9/2015). Diantaranya, stop pelanggaran kemanusiaan dan HAM.

Tuntutan selanjutnya adalah meminta segera tuntaskan kasus pembunuhan aktivis di Lumajang, sampai ke akar-akarnya dengan seadil-adilnya.

"Bongkar dan adili pelaku kejam tersebut sampai ke akar-akarnya, termasuk aktor intelektual yang ada di balik tragedi pembunuhan Salim di Lumajang itu. Stop perusakan, pencemaran lingkungan di bangsa ini," jelas Muhammad Suri, koordinator aksi.

Menurutnya, pihak kepolisian dan lembaga terkait  untuk terus melakukan pengusutan secara tuntas terhadap para pelaku pelanggaran sampai ke akar-akarnya. "Seseorang yang dibunuh bagaikan hewan dan dibunuh secara tidak layak," ujar Suri, Selasa (29/9/2015) di sela-sela aksinya bersama puluhan aktivis PMII, di depan Balaikota Malang.

Suri, juga meminta kepada Walikota Malang untuk berpartisipasi agar kejadian seperti yang dialami petani warga Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang tidak terulang kembali, dan terjadi di Kota Malang.

Dalam aksinya, puluhan aktivis PMII Kota Malang menggelar Shalat Gaib dan Tahlil.  Mereka mendoakan petani Lumajang yang meninggal karena mengalami penganiayaan. (*)