Wali Kota Malang Sutiaji (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).
Wali Kota Malang Sutiaji (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).

MALANGTIMES - Wali Kota Malang Sutiaji kritisi desain strategis promosi BPJS Kesehatan. 

Pria berkacamata itu menilai, selama ini BPJS Kesehatan lebih banyak melakukan pendekatan kuratif, dan sedikit memberikan porsi aspek promotif.

"Jadi tidak mengherankan apabila BPJS terus merugi, karena energi terkuras ke sana," tegas pria yang akrab disapa Pak Aji itu melalui keterangan tertulis yang diterima MalangTIMES, Minggu (27/10/2019).

Dalam kesempatan menghadiri Semiloka yang mengangkat tema 'Regulasi dan Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Nasional, Antara Harapan dan Kenyataan' itu, Sutiaji juga melontarkan kritik pedas terhadap keberadaan klinik kesehatan di Kota Malang.

Di hadapan anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Malang itu, Sutiaji mengkritisi atas banyaknya klinik kesehatan yang sering tutup. 

Informasi itu didapatkan dari banyaknya keluhan yang berasal dari BPJS Kesehatan Malang saat akan merealisasikan biaya.

"Karena untuk kelengkapan administrasi setelah didatangi petugas, klinik sering tutup. Sehingga muncul satu kesimpulan awal, itu klinik dihadirkan hanya untuk mendapatkan poin semata. Maka saya minta ini jadi evaluasi bersama," tegas dia.

Politisi Demokrat itu juga menginformasikan hingga tahun 2019 sudah 79 persen kepesertaan BPJS kesehatan di Kota Malang (sekitar 800 ribu lebih). 

Tahun 2020 diharapkan Kota Malang sudah Universal Health Coverage atau dengan kata lain semua warga kota Malang tercover BPJS. Baik warga pra sejahtera maupun yang mampu.

"Dengan catatan premi tidak naik telah kami alokasikan sekitar Rp 43 hingga 45 Miliar. Karena urusan kesehatan menjadi tanggung jawab bersama atau gotong royong," pungkasnya.