Pj Kepala Desa Torongrejo Muhammad Viata Aria Pranaka meletakkan kendi berisikan air di tempat ngelerem Balai Desa Torongrejo, Sabtu (26/10/2019). (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)
Pj Kepala Desa Torongrejo Muhammad Viata Aria Pranaka meletakkan kendi berisikan air di tempat ngelerem Balai Desa Torongrejo, Sabtu (26/10/2019). (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Ada sesuatu yang berbeda dalam kirab budaya yang digelar di Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo, Sabtu (26/10/2019). 

Kirab yang dibawa dalam kendi adalah air yang digelar dalam rangka Festival Lembayung Gunung Ukir.

Itu merupakan ritual sedekah banyu dan ngarak banyu. 

Baca Juga : Soroti Covid-19, Aktor Deva Mahendra: Bersahabatlah dengan Jeda dan Jarak

Kirab diawali dengan prosesi pengambilan air yang diletakkan di dalam kendi dari sumber Watu Saron. 

Kemudian air itu dibawa oleh kepala Dusun klerek untuk doa bersama (ritual dawuhan) ke rolak kali brantas.

Usai ritual dawuhan, air di karak atau dikirab dengan iringan kelompok seni budaya lokal Desa Torongrejo ke Dusun Krajan. 

Sesampainya di sana air itu diserahkan kepada kepala Dusun Krajan di Balai Desa Torongrejo.

Selanjutnya diserahkan kepada pejabat sementara Kepala Desa untuk dilakukan ritual, yakni nglerem banyu. 

Nglerem banyu itu merupakan ritual air didiamkan selama 1 malam di balai desa.

“Nglerem ini tujuananya untuk penyucian air sumber sebelum dilanjutkan dibawa ke Dusun Wukir pada Minggu (27/10/2019),” ungkap Ketua Panitia Festival Lembayung Gunung Ukir, Frananta Riski Agrida.

Baca Juga : Indah nan Lengang, Nostalgia Kesejukan Malang Raya ketika Belanda Datang Lewat Lukisan Abraham Salm

Kirab itu dilakukan dengan berjalanan kaki oleh puluhan warga Desa Torongrejo. 

“Di bawa keliling desa itu bertujuan supaya seluruh desa mendapatkan berkah dari air tersebut. Karena air di desa ini melimpah,” imbuhnya.

Sementara itu Pj Kepala Desa Torongrejo Muhammad Viata Aria Pranaka menambahkan, adanya Festival Lembayung Gunung Ukir itu untuk penyucian air dan mengangkat budaya yang sudah ada kepada masyarakat Desa Torongrejo khususnya untuk para generasi muda.

“Adat seperti ini sudah lama ada namun seiring dengan berjalannya waktu semakin memudar. Sehingga perlu diangkat kembali,” ucap Viata.

Selain itu melalui sedekah banyu dan ngarak banyu ini Desa Torongrejo dilimpahi dengan banyak air, di tengah-tengah musim kemarau.

Mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari hingga mengairi persawahan.