Flyer bedah buku Kuliner Hindia Belanda 1901-1942 yang akan diselenggarakan di Coffee Times (Foto : Dokumen MalangTIMES)
Flyer bedah buku Kuliner Hindia Belanda 1901-1942 yang akan diselenggarakan di Coffee Times (Foto : Dokumen MalangTIMES)

MALANGTIMES - Sebagian besar masyarakat Indonesia tentu sudah tidak asing lagi dengan menu sayur lodeh. Masakan berkuah santan ini memang menjadi salah satu hidangan favorit pencinta kuliner. Namun, tahukah kalian, jika sayur lodeh ternyata sudah populer sejak masa Hindia Belanda?.

Merujuk pada buku yang berjudul Kuliner Hindia Belanda 1901-1942, menjelaskan jika sayur lodeh sudah menjadi salah satu masakan populer yang sudah ada sejak era kolonialisme. ”Ada banyak makanan yang dibuat oleh koki bumiputera (pribumi), salah satunya adalah sayur lodeh. Hanya saja di era Hindia Belanda masakan khas bumiputra disajikan sesuai dengan masanya, yakni disajikan dengan cara dan kebiasaan orang Eropa,” terang Pipit Anggraeni selaku penulis buku Kuliner Hindia Belanda 1901-1942.

Baca Juga : Nongkrong Suasana Asri, Sejuk, dan Tenang Tak Jauh dari Pusat Kota Malang

Dara yang akrab disapa Pipit ini mengaku, jika tidak hanya sayur lodeh saja yang sudah populer sejak era kolonialisme. Namun sederet masakan yang sering disantap masyarakat modern saat ini, ternyata juga sudah populer sejak masa Hindia Belanda.

”Selain lodeh, berbagai masakan lain seperti nasi goreng, sate, hingga perkedel sebenarnya juga sudah populer sejak tahun 1900 an. Meski cita rasa yang disuguhkan murni masakan bumiputera, namun pada masa itu cara menyajikannya berbeda dengan era modern saat ini. Misalnya dari segi penataan hidangan di meja dan sebagainya, masih menganut perpaduan budaya antara bumiputera dan Eropa,” jelas alumnus UM (Universitas Negeri Malang) ini.

Jika ditelisik lebih jauh, masih banyak sejarah kuliner di era kolonialisme yang tertuang dalam buku berjudul Kuliner Hindia Belanda 1901-1942 tersebut. Salah satunya menguak perihal kebiasaan memasak para koki bumiputera. ”Dunia kuliner sudah populer sejak abad ke 19 masehi, bahkan di era tersebut juga sudah ada sekolah rumah tangga yang khusus untuk perempuan bumiputera. Sekolah rumah tangga di era kolonialisme itu dikenal dengan sebutan huishoudschool,” ungkap Pipit yang juga pernah menimba ilmu di Fakultas Ilmu Sosial, Jurusan Sejarah UM ini.

Karena ketelatenannya dan fakta menarik terkait perkembangan sejarah kuliner itulah, perempuan yang sekarang bekerja sebagai wartawan di MalangTIMES.com itu membuat buku tersebut. Rencananya, buku tersebut bakal dikupas dalam bedah buku yang diselenggarakan di Coffee Times, pada Selasa (29/10/2019) mendatang.

”Kami memberikan fasilitas bagi pengunjung yang ingin menyalurkan bakat dan karya untuk ditampilkan di tempat kami. Sebelumnya berbagai acara mulai dari pentas seni, lomba, rapat, dan diskusi juga sudah pernah diadakan di tempat kami,” kata A Yahya selaku Penggelola Coffee Times, saat ditemui MalangTIMES.com.

Pada agenda bedah buku tersebut, lanjut Yahya, dibuka untuk kalangan umum. Para pengunjung tinggal datang ke Coffee Times, yang berlokasi di Pasar Terpadu Dinoyo lantai 2. Selain bisa mengulik sejarah perkembangan kuliner, para pengunjung juga bisa membeli buku serta aneka makanan, camilan, dan minuman di coffee times.

Untuk diketahui, beda buku Kuliner Hindia Belanda 1901-1942 akan dilangsunkan pada  Selasa (29/10/2019) pukul 19.00-22.00. Rencanaya, akan ada 2 orang narasumber yang dihadirkan dalam agenda bedah buku Kuliner Hindia Belanda 1901-1942. Yaitu Dosen Binus Malang, Faishal Hilmy Maulida dan Pemred (Pempinan Redaksi) MalangTIMES.com, Heryanto.

Sekedar diketahui, Coffee Times yang berlokasi di Lantai 2 Pasar Terpadu Dinoyo ini, menyajikan berbagai menu makanan dan camilan. Bahkan pihak pengelola juga menyediakan minuman yang dapat disajikan dalam kondisi panas, hangat, maupun dingin.

Pada varian menu yang dapat disajikan dalam kondisi panas tedapat minuman olahan kopi, yang meliputi kopi moro seneng, kopi ambyar, kopi tubruk, kopi bromo, kopi ijen, tubruk susu, french pres, v60, vdrip dan kopi luwak.

Baca Juga : Sajikan Dawet Asli Kromengan, Warung Mak Tum Bisa Jadi Alternatif Wisata Kuliner

Sedangkan varian menu yang bisa dinikmati secara dingin meliputi es kopi susu, ice milkshake kacang hijau, moccachino, macchiato, cappuchino, cokelat susu, dan lainnya sebagainya.

Kemudian untuk menu yang bisa disajikan dalam kondisi panas maupun dingin ada pilihan minuman susu, cokelat, teh, teh tarik, milkshake, cokelat susu, hingga Josua.

Berbagai varian menu tersebut dijual dengan harga yang sangat terjangkau. Sebab harga yang ditawarkan hanya berkisar antara Rp 4 ribu hingga Rp 20 ribu.

Didukung dengan lokasi yang luas dan strategis, membuat para pengunjung tidak perlu khawatir bakal kehabisan tempat. Selain itu, pihak pengelola Coffee Times juga menyediakan beragam fasilitas. Di antaranya free wifi, layar lengkap dengan proyektornya, beberapa mikrofon, serta sound system.

Lantaran memiliki sederet fasilitas penunjang inilah, membuat banyak komunitas hingga organisasi maupun instansi yang sudah menyelenggarakan acara di Coffee Times.

Sebelum ada acara bedah buku, sederetan kegiatan pernah digelar di coffee times. Di antaranya kegiatan rapa umum, diskusi terbuka, diskusi budaya, diskusi, nobar, perlombaan, hingga pentas seni dan kreasi.