Tangkapan layar pesan singkat di WhatsApp
Tangkapan layar pesan singkat di WhatsApp

MALANGTIMES - Beberapa murid Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Malang dilaporkan menderita difteri. 

Akibatnya, sekolah pun terpaksa diliburkan sejak Rabu (23/10/2019) besok hingga Minggu (27/10/2019) mendatang.

Informasi itu pertama kali menyebar di beberapa pesan singkat WhatsApp. 

Di mana dijelaskan jika siswa diliburkan sementara waktu. 

Termasuk kegiatan belajar mengajar ditiadakan lantaran ada beberapa siswa yang menderita difteri. 

Disebutkan juga jika keputusan tersebut diambil lantaran dikhawatirkan wabah difteri akan menular ke siswa yang lain ketika sekolah tetap aktif seperti biasanya.

"Rabu besok sampai Minggu (27 Oktober 2019) seluruh murid (kelas 1 sampai kelas 6) MIN 1 Kota Malang diliburkan. Kegiatan belajar-mengajar diliburkan karena saat ini beberapa murid MIN menderita difteri sehingga dikhawatirkan menular ke murid lainnya. Untuk pastinya, silakan hubungi sendiri pihak MIN maupun instansi terkait, seperti Dinkes," bunyi pesan singkat yang tersebar di beberapa WhatsApp.

Kabar itu pun dibenarkan salah satu staf Sekolah MIN 1 Malang, Muntholib. 

Dia menyampaikan jika kabar meliburkan siswa dan siswi MIN 1 Malang adalah benar. 

Namun dia enggan memberikan keterangan lebih jauh dan meminta agar MalangTIMES mengonfirmasi langsung Kepala Sekolah MIN 1 Malang.

"Benar mbak (kabar diliburkannya siswa dan siswi MIN 1 Malang; red). Tapi lebih jelasnya bisa hubungi Pak Kepala Sekolah ya mbak," jawabnya.

Namun, saat nomor Kepala Sekolah MIN 1 Malang, Suyanto tak ada jawaban dan hanya terdengar suara nada sambung saja. 

Sementara ketika dikonfirmasi melalui pesan singkat WhatsApp juga belum ada jawaban.

Sementara itu, dari hasil notulensi pertemuan Penanganan Difteri
Senin, 21 Oktober 2019 sejak pukul 13.00 WIB hingga 15.00 WIB, disebutkan sesuai dengan hasil SWAB, tidak ditemukan penderita diftery di MIN 1 Kota Malang. 

Yang ditemukan adalah 212 siswa yang carier (pembawa) dari 1.107 siswa yang melakukan SWAB dan masih menunggu hasil dari 217 siswa yang belum SWAB.

Dari hasil pemeriksaan SWAB secara kultur Lab Mikrobiologi FK UB memang ditemukan siswa pembawa kuman (carier) difteri bukan penderita.

Dalam masalah medis, carier diftery bisa diobati agar dalam tubuhnya tidak berkembang kuman dengan mengonsumsi eritromisin selama 7 hari dengan dosis 4 x sehari dengan rentang waktu setiap 6 jam.

Dalam poin lain juga disampaikan jika yang terjadi di MIN 1 Kota Malang bukan KLB diftery.

Sehingga upaya-upaya terus dilakukan untuk mencegah penularan kuman. 

Sedangkan untuk upaya preventif, maka akan melakukan langkah-langkah yang terukur.

Di antaranya semua siswa, guru dan karyawan harus SWAB. 

SWAB tidak wajib dilakukan di madrasah bisa
di luar madrasah secara mandiri.

Sementara itu, mengutip laman halodoc, difteri sendiri dijelaskan sebagai suatu infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae, yang menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta dapat memengaruhi kulit. 

Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa.

Penyebaran dan penyebaran difteri sendiri bisa melalui partikel di udara, benda pribadi, peralatan rumah tangga yang terkontaminasi, serta menyentuh luka yang terinfeksi kuman difteri.