Kapolres Malang Kota, AKBP Dony Alexander SIK, MH saat menyambangi par korban untuk melakukanntrauma healing (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)
Kapolres Malang Kota, AKBP Dony Alexander SIK, MH saat menyambangi par korban untuk melakukanntrauma healing (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Pasca penamparan yang dialami 10 siswa SMK Muhammadiyah 2 Malang oleh motivator dari PT Piranha Mas Group Agus Setiawan, Polres Malang Kota menurunkan Unit Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) ke kediaman korban guna melakukan trauma healing.

Seperti halnya hari ini (20/10/2019), Unit PPA Polres Malang Kota mengunjungi beberapa korban yakni Affandi, Novan Fatur, Wahyu Pratama dan Jiwandono Wahyu yang berkumpul di rumah Novan di kawasan Jalan Mulyodadi, Mulyoagung, Dau, Malang.

Kapolres Malang Kota AKBP Dony Alexander SIK MH mengatakan langkah ini dilaksanakan sebagai upaya konseling untuk menghilangkan rasa trauma para korban sehingga mereka bisa kembali beraktivitas menempuh pendidikan seperti biasanya.

"Alhamdillah respons anak-anak baik. Di sini kami menerjunkan tim yang memiliki personel khusus yang memiliki keahlian sebagai psikolog sehingga para korban bisa pulih dari trauma," paparnya.

Lebih lanjut dijelaskan, mengenai tingkat trauma para korban terbilang sama. 

Para korban mengalami shock yang cukup berat karena tak menyangka kejadian penamparan tersebut akan terjadi.

"Pendampingan dan konseling akan terus dilakukan rutin sampai mereka bisa beraktivitas kembali dengan normal serta mental mereka bisa terbangun kembali. Untuk sampai kapannya, tim kami akan melakukan penilaian," jelasnya.

Sebelumnya, sempat viral penamparan terhadap 10 siswa SMK Muhammadiyah 2 Malang saat kegiatan motivasi wirausaha. 

Penamparan bermula dari kesalahan tulisan goblok. 

Dari situ siswa peserta sempat tertawa dan kemudian memnacing emosi pelaku hingga melakukan penamparan.

Namun, tak lama setelah itu korban melapor ke polisi dan langsung ditindaklanjuti dengan menangkap pelaku dan menetapkannya sebagai tersangka berdasarkan bukti-bukti yang ada ditambah keterangan saksi. 

Pelaku terancam pasal 80 UU 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak dengan ancaman lima tahun penjara.