Edi Yulianto alias Bebek (baju putih) tersangka utama dalam kasus Curanmor yang sudah beraksi pada puluhan TKP di Kabupaten Malang, saat sesi rilis di halaman Polsek Gondanglegi (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Edi Yulianto alias Bebek (baju putih) tersangka utama dalam kasus Curanmor yang sudah beraksi pada puluhan TKP di Kabupaten Malang, saat sesi rilis di halaman Polsek Gondanglegi (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

MALANGTIMES - Masih ingat dengan Edi Yulianto alias Bebek warga Desa Pakuncen, Kecamatan Patihan Rowo, Kabupaten Nganjuk?. Pria 32 tahun itu, merupakan pelaku utama kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor), yang berhasil diamankan petugas gabungan Polsek Gondanglegi dan Polres Malang. Saat diamankan, polisi terpaksa menembak kaki kelima pelaku komplotan curanmor tersebut, lantaran berupaya kabur saat diringkus petugas, Rabu (16/10/2019).

 

 

Sebelum diamankan pihak kepolisian, tersangka Bebek dan komplotannya sudah berhasil mengasak seluruh motor milik korbannya. Setiap kali beraksi, nyaris tidak ada yang berujung dengan kegagalan. Padahal Bebek dan komplotannya ini, diduga sudah beraksi sejak dua tahun belakangan ini.

Puncaknya, pada bulan Agustus 2019 Bebek melancarkan aksi pencurian hampir di setiap hari. Hingga kini, sudah ada seabrek motor dan lokasi yang pernah dijadikan korban sasaran pencurian.

Berawal dari fakta inilah, MalangTIMES.com mencoba untuk melakukan wawancara eksklusif terhadap pelaku spesialis curanmor tersebut. Dihadapan wartawan, pria yang berusia lebih dari kepala tiga itu, membagikan beberapa tips agar sepeda motor tidak bisa dibobol oleh maling.

”Saya menggunakan kunci T yang sudah dimodifikasi untuk merusak rumah kontak kendaraan. Setiap kali beraksi hanya membutuhkan waktu kurang dari 10 menit, 10 detik untuk merusak rumah kontak, 2 menit untuk membawa kabur motor curian dari rumah korban, dan sisanya untuk kabur melarikan diri dari sekitar lokasi kejadian. Jika lebih dari ketentuan itu, dikhawatirkan akan ketahuan pemilik kendaraan,” terang Bebek saat ditemui MalangTIMES.com.

Bebek mengaku jika motor yang dijadikan target utama pencurian adalah sepeda motor jenis matic. Menurutnya, kendaraan yang tinggal menarik panel gas tersebut, merupakan jenis motor yang paling mudah untuk dirusak rumah kontaknya. ”Semua jenis motor matic itu mudah dibobol, apalagi Scoopy. Sedangkan yang paling susah adalah motor Ninja,” sambung Bebek.

Perlu diketahui, sebelum melancarkan aksinya Bebek dan komplotannya akan membawa sekitar 10 jenis kunci T berbagai ukuran. Yakni memiliki panjang berkisar antara 8 hingga 15 sentimeter. Sedangkan penggunaannya, disesuaikan dengan kebutuhan dan jenis kendaraan.

Bahkan, dirinya juga membawa magnit khusus untuk membuka safety lock (kunci magnit). Jika sudah terbuka, maka Bebek akan menggunakan kunci T untuk membuka kunci stang dan menyalakan mesin.

”Untuk membuka kunci stang, hanya perlu waktu kurang dari 10 detik. Setelah memasukkan kunci T, kemudian tinggal diputar (searah jarum jam). Kalau matic hanya perlu sekali kontak, kalau motor Ninja susah. Perlu dua kali kontak, karena lubang kuncinya terlalu dalam,” ungkap Bebek.

Selain memperhatikan jenis kendaraan, para pelaku juga akan memperhatikan jenis kunci stang pada kendaraan. Dimana, jika kendaraan dalam kondisi stang kiri, maka proses membobolnya lebih mudah.

”Selama masih dikunci stang ke kiri, masih bisa dan mudah untuk dibobol. Tapi kalau kunci stangnya ke kanan susah. Hampir semua motor yang saya bobol adalah yang di kunci stang ke kiri, tujuannya untuk meminimalisir ketahuan korban. Sebab kalau ke kanan susah dan membutuhkan waktu lama,” jelas Bebek.

Setiap melancarkan aksinya, Bebek tidak memerlukan banyak personel. Biasanya dia hanya beraksi dengan seorang temannya. Dimana, satu orang bertugas sebagai eksekutor. Sedangkan satu pelaku lainnya, bertugas menunggu di sepeda motor yang dijadikan sarana pencurian.

Pelaku yang hanya berjumlah dua orang itu, bertujuan untuk meminimalisir kecurigaan korban dan orang lain yang melinas di sekitar lokasi kejadian. Sebab kalau rombongan (3 orang aau lebih), tentunya akan membuat orang lain curiga.

Selain itu, pelaku yang berjumlah dua orang itu juga bertujuan untuk memudahkan pelaku saat beraksi. Misalnya jika ketahuan pemilik, dia bisa langsung kabur dan berlari ke arah titik pemantauan. Sedangkan jika berhasil membobol motor hasil curian, kedua pelaku akan mendorong dan menjauh dari titik pencurian terlebih dahulu.

Jika dirasa sudah menjauh dari lokasi pencurian, mesin kendaraan baru akan dinyalakan kemudian kabur dari kawasan pencurian. ”Jika motor tidak bisa dikunci stang ke kanan, maka gunakan kunci pengaman tambahan. Misalnya gembok dan sebagainya, tujuannya untuk mempersempit ruang gerak pelaku. Sebenarnya gembok apapun masih bisa dibobol, tapi jika dalam 10 detik motor belum bisa dibawa kabur dari titik pencurian, biasanya akan kami tinggalkan,” ujar Bebek.

Ketrampilannya di dunia curanmor itu, dipelajari oleh Bebek sesaat setelah keluar dari penjara. Perlu diketahui, pada tahun 2012 lalu, bebek pernah dipenjara karena kasus pengeroyokan di wilayah Pamekasan.

Setelah keluar dari penjara, pria yang kesehariannya bekerja sebagai kuli bangunan itu, belajar kepada salah seorang temannya yang ada di wilayah Surabaya. Di sana dia belajar caranya membobol motor. ”Setelah bisa mempraktekkan cara membobol motor, saya mengajak empat teman untuk beraksi secara bergantian. Saya ketemu mereka (4 pelaku lainnya), dari warung kopi,” sambung Bebek.

Seperti yang sudah diberitakan, komplotan pencuri spesialis curanmor yang beranggotakan lima orang ini terdiri dari tersangka Edi Yulianto alias Bebek (32) warga Desa Pakuncen, Kecamatan Patihan Rowo, Kabupaten Nganjuk. Sedangkan tiga orang tersangka lainnya merupakan warga Desa Polaman, Kecamatan Dampit. Mereka adalah Rama Andika alias Mimin (22), Faisal alias Gendut (20) dan Mas Had (25). Terakhir, satu orang tersangka lainnya adalah Deni (22) warga Desa Lambangsari, Kecamatan Dampit.

Berdasarkan hasil penyidikan polisi, kelima pelaku sudah beraksi sejak beberapa tahun sebelum akhirnya diringkus petugas gabungan dari Polsek Gondanglegi dan Polres Malang. Bahkan sudah ada puluhan TKP (Tempat Kejadian Perkara) serta korban, yang sudah pernah dijadikan sasaran pencurian.

Mirisnya, komplotan pencuri yang beranggotakan 5 orang ini, melancarkan aksinya hampir setiap hari. Sasarannya adalah sepeda motor milik korban yang terparkir di halaman atau teras rumah warga.

Nyaris semua wilayah di Kabupaten Malang sudah pernah disatroni komplotan ini. Mulai dari Kecamatan Gondanglegi, Bululawang, Pagelaran, Turen, Bantur, Kepanjen, hingga Dampit sudah pernah disatroni kelima tersangka.

Siang menjelang waktu magrib, merupakan saat dimana komplotan ini melancarkan aksinya. Modus yang digunakan adalah merusak rumah kontak sepeda motor korban, dengan menggunakan kunci T yang sudah dimodifikasi.

Usai mendapatkan barang hasil curian, sepeda motor milik korban disimpan di kontrakan tersangka Edi Yulianto alias Bebek. Keesokan harinya, sepeda motor yang disimpan di rumah kontrakan yang ada di wilayah Kecamatan Gondanglegi itu, dijual kepada seorang penadah.

Pelaku yang bertindak sebagai penadah ini berinisial GM warga Kabupaten Lumajang. Sedangkan lokasi yang dijadikan sarana bertransaksi barang curian, paling sering terjadi di jembatan piket 0. Yakni daerah perbatasan antara Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang. Dimana, satu unit motor hasil curian dijual ke penadah dengan harga yang bervariatif. Yakni berkisar antara Rp 1,8 juta hingga Rp 3 juta.

”Dua dari lima orang tersangka merupakan seorang residivis, selain itu komplotan spesialis curanmor ini diduga juga terlibat jaringan peredaran narkoba jenis pil double L dan sabu. Kasusnya masih kami kembangkan, tim masih memburu keberadaan penadah motor hasil curian,” tutup Kanit Reskrim Polsek Gondanglegi, Ipda Sigit Hernadi, Sabtu (19/10/2019).