Diskusi Budaya Mengupayakan Indonesia Bahagia Melalui Kerja-Kerja Berbasis Budaya bekerjasama dengan Coffe Times, Terminal Kopi Malang dan MalangTIMES, Kamis (17/10/2019) (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)
Diskusi Budaya Mengupayakan Indonesia Bahagia Melalui Kerja-Kerja Berbasis Budaya bekerjasama dengan Coffe Times, Terminal Kopi Malang dan MalangTIMES, Kamis (17/10/2019) (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Diskusi hangat digelar Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Islam Malang (Unisma) bekerjasama dengan Coffee Times, Terminal Kopi Malang dan MalangTIMES, Kamis (17/10/2019) malam. Diskusi tersebut bertajuk " Diskusi Budaya Mengupayakan Indonesia Bahagia Melalui Kerja-Kerja Berbasis Budaya".

Hadir sebagai pemateri dalam diskusi tersebut, Dr. Ari Ambarwati, Dosen PBSI-FKIP Unisma yang juga penulis buku Nusantara Dalam Piringku.

Tri Syafaan, penanggung jawab acara menjelaskan kegiatan diskusi ini merupakan agenda rutin yang dilakukan dua kali setiap bulan.

"Di sini kami ingin para pemuda itu paham dan melestarikan budayanya sendiri. Makanya, temanya adalah  Diskusi Budaya Mengupayakan Indonesia Bahagia Melalui Kerja-Kerja Berbasis Budaya. Setidaknya dengan mengetahui budaya yang ada teman-teman generasi muda bisa memahami akan arti kesatuan maupun toleransi di tengah perbedaan. Meskipun berbeda-beda tetap satu," paparnya.

Sementara itu, Dr. Ari Ambarwati saat memaparkan materinya menjelaskan, "Kita ini ber-DNA orang yang sangat berbudaya. Jadi saat ini kerja menghidupi kebudayaan adalah sebuah keniscayaan bahkan kewajiban," tegasnya.

Sebab menjadi Indonesia, lanjutnya, memang dilatari berbagai perbedaan oleh beragam budaya sehingga Indonesia sangat dinamis. Indonesia saat ini adalah negeri yang sangat berwarna-warni.

"Tak perlu harus seragam. Seperti daerah Tlogomas maupun Merjosari, yang senang pamer dalam tanda kutip ciri khas mereka sebagai orang yang  berbudaya. Pastinya beda dengan daerah lain di Kota Malang," jelasnya.

Sehingga  dalam konteks  kerja budaya juga bisa diartikan kesenangan memamerkan dalam tanda kutip, adat istiadat daerah mereka masing-masing dengan penuh kebanggaan.

"Kita besar karena tiga hal yakni sains, olahraga dan budaya. Kita berdayakan yang budaya itu. Saya sendiri juga bermimpi guru, guru Indonesia ke depan dalam mengajar harus memiliki perspektif budaya Indonesia," pungkasnya.

Sementara itu, Diskusi Budaya Mengupayakan Indonesia Bahagia Melalui Kerja-Kerja Berbasis Budaya tersebut bertambah meriah dengan performance  para mahasiswa yang membacakan bait-bait puisi di hadapan sekitar 50 lebih peserta diskusi.