Sekda Kabupaten Malang Didik Budi Muljono saat menandatangani komitmen penurunan stunting di Kabupaten Malang. (dok MalangTimes)
Sekda Kabupaten Malang Didik Budi Muljono saat menandatangani komitmen penurunan stunting di Kabupaten Malang. (dok MalangTimes)

MALANGTIMES - Indonesia kaya dengan beragam hasil bumi yang ternyata juga bisa dijadikan solusi dalam memecahkan berbagai persoalan ketahanan pangan. Hasil bumi itu juga untuk jawaban terkait persoalan yang kini ramai diperbincangkan, yaitu stunting.

Singkong adalah salah satu hasil bumi yang bisa jadi alat intervensi untuk menekan angka stunting di Indonesia.  Tanaman yang sampai saat ini dipandang remeh hasilnya itu bila dikembangkan akan menjadi bahan pangan bernutrisi karena memiliki kandungan beta karoten tinggi serta mampu menjadi alat intervensi stunting.

Hal ini diperkuat hasil penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui  Pusat Penelitian Bioteknologi yang menyampaikan singkong mampu menekan angka stunting melalui pengembangan.  “Singkong merupakan salah satu komoditas pangan karbohidrat yang sangat tinggi untuk konsumsi maupun bahan baku industri. Tanaman ini memiliki sifat yang fleksibel karena dapat tumbuh dan berproduksi di daerah dataran rendah sampai dataran tinggi pada tanah dengan pH asam hingga alkalin,” jelas peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Ahmad Fathoni seperti dilansir di laman resminya.

Beberapa bibit unggul yang telah dihasilkan salah satunya adalah jenis carvita. Jenis ini hasil pemuliaan melalui metode varian somaklonal dan beberapa jenis lainnya. “Jenis ini sangat potensial dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai bahan pangan bernutrisi karena memiliki kandungan beta karoten yang tinggi,” ujar Fathoni.

Selain pembibitan, LIPI juga mengembangkan singkong sebagai bahan pangan berkualitas melalui pengolahan pascapanen untuk menghasilkan produk tepung termodifikasi (mocaf) kaya beta karoten. Salah satunya untuk bahan baku pembuatan mi sayur. “Inovasi ini merupakan upaya mempertahankan kualitas nutrisi bahan pangan untuk berbagai produk olahan makanan," ungkap Fathoni.

Hasil penelitian inilah yang membuat Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malang Didik Budi Muljono juga menyampaikan bahwa penelitian LIPI itu bisa dilakukan pengembangan di tingkat daerah. "Tentunya ini bisa dijadikan referensi dalam intervensi stunting di Kabupaten Malang. Apalagi tanaman singkong juga banyak ditanam di sini," ucap Didik Budi, Kamis (17/10/2019) kepada MalangTimes.

Seperti diketahui, luasan tanaman singkong di Kabupaten Malang tahun 2018 mencapai 6.370 hektare (ha). Lahan singkong itu tersebar di 33 kecamatan di Kabupaten Malang. Dengan luasan tersebut, pada tahun yang sama, produksi singkong mencapai 206.552 ton.

Tahun 2017 lalu, lahan singkong bahkan lebih luas lagi, yaitu mencapai 10.286 ha. Luasan itu membuat produksi singkong di 33 kecamatan mencapai 266.181 ton.

Terdapat penurunan cukup tinggi terkait  luas areal singkong dalam dua tahun terakhir. Itu disebabkan hasilnya dianggap tak secerah tanaman lainnya. Alih fungsi lahan singkong pun terjadi.

"Dengan adanya berbagai hasil penelitian terhadap singkong, maka layak tentunya areal tersisa itu dipertahankan. Tentunya dengan berbagai pengembangan atas bibir unggul dan pengolahannya. Apalagi singkong bisa jadi bahan pangan untuk mencegah stunting," harap Didik Budi.

Harapan besar itu pun beberapa kali ditindaklanjuti oleh dinas terkait. Baik melalui survei maupun pelatihan pengolahan singkong menjadi produk yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Berbagai perlombaan, seperti yang dilakukan oleh Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Malang, terkait pengolahan sumber pangan lokal pun setiap tahun digelar..

"Jadi, saya mendorong memang untuk terus mengoptimalkan berbagai upaya dalam menghadapi stunting. Lewat bahan pangan lokal, misalnya, yang ternyata bisa jadi alat intervensi stunting," pungkas Didik Budi.