Ilustrasi (Ist)
Ilustrasi (Ist)

MALANGTIMES - Media sosial (medsos) serupa mata pisau. Kedua sisinya memiliki ketajaman yang mampu mengiris dan memotong. Bila tak bijak mempergunakannya, maka lahirlah berbagai efek negatif. Dari kabar hoaks, perpecahan di akar rumput, sampai urusan domestik keluarga, yakni perceraian.

Bahkan, untuk yang terakhir, medsos benar-benar disebut biang kerok terjadinya perceraian dengan angka yang terus naik. Prosentase perceraian gegara medsos pun mulai menyelip sumber lain pisahnya suami dan istri, yaitu masalah ekonomi.

Dilansir dari theburdettelawfirm.com, Asosiasi Pengacara Pernikahan Amerika Serikat (American Association of Matrimonial Lawyers) menyebutkan, ada bukti bahwa medsos berperan dalam 81 persen kasus perceraian. Bahkan, ada juga yang menyebut, 1 dari 5 perceraian di dunia ditemukan terkait dengan jejaring sosial media (www.roundark.com).

Lantas bagaimana di Indonesia ?
Tak jauh berbeda dengan belahan negara lainnya, dimana di berbagai daerah Indonesia, medsos telah menjadi sumber petaka keutuhan keluarga. Sebut saja, di Karangasem, Bali dengan tingkat perceraian yang didominasi medsos dengan prosentase 50 persen. Sisanya, dikarenakan faktor kekerasan dalam berumah tangga, ekonomi, serta adanya pihak ketiga.

Jumlah perceraian pun terbilang tinggi dengan angka 98 kasus di 2019. Sedangkan untuk tahun 2018 angkanya sampai 157 kasus.

Di Kabupaten Malang, angka perceraian telah jadi rahasia umum terbilang tinggi. Serta didominasi oleh cerai gugat yang dilayangkan perempuan.
Data dari Pengadilan Agama Kabupaten Malang, selama tahun 2018 lalu terdapat sebanyak 6.878 kasus perceraian. Sedang pada tahun 2017 jumlahnya lebih rendah, yakni sebanyak 6.420 kasus. Dan pada tahun 2016 terdapat sebanyak 6.889 kasus perceraian.

Dimana, medsos pun berkelindan dan menjadi salah satu sumber terjadinya perceraian.
Sama dengan di Kota Depok, dengan tingkat perceraian didominasi usia 23 hingga 30 tahun. Dimana cerai gugat terbilang tinggi dalam perceraian. Dengan sumber persoalan medsos yang mendominasi mengalahkan masalah perekonomian. Jumlah perceraian di Depok, di tahun  2018 mencapai 3.525 kasus.

Kondisi ini pun terjadi di berbagai daerah lainnya dan menjadi sebuah sorotan khusus oleh berbagai kalangan. Seperti yang kini ramai dan jadi trending topik Twitter di Indonesia, dengan tagar Perempuan dan Medsos.

Trisna Willy Lukman Hakim, Ketua Dharma Wanita Kementerian Agama (Kemenag) menyampaikan, bahwa perceraian yang dulu dilatarbelakangi masalah perekonomian, kini bergeser dikarenakan medsos.

"Dari seluruh Indonesia tingkat perceraian tertinggi berada di Kota Depok dan sebagian besar pemicunya adalah medsos," ucap Trisna yang disampaikan ulang oleh salah satu peserta seminar dengan akun @siwiragils, Kamis (17/10/2019).

Dari berbagai data perceraian di berbagai daerah dikarenakan medsos, dipicu oleh penggunaannya yang didominasi oleh kaum hawa. Yakni, 46 persen pengguna medsos adalah perempuan dan sisanya adalah kaum Adam. Seperti yang disampaikan oleh @rahmat28adi dalam sesi acara tersebut.

Berbagai peristiwa itulah yang membuat berbagai kalangan miris dibuatnya. Seperti yang disampaikan oleh @irhayatiharun06, "Kita tentu prihatin dengan peristiwa yg terjadi akhir 2 ini, dimana ketika wanita kurang bijak dalam bermedsos, suami dan keluargalah yg ikut terkena dampaknya," cuitnya menyikapi maraknya perceraian dikarenakan penggunaan medsos yang tak bijak.