Pasukan dalmas menghalau pendemo dengan menggunakan tameng dalam simulasi. (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)
Pasukan dalmas menghalau pendemo dengan menggunakan tameng dalam simulasi. (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Polres Malang Kota melakukan simulasi pengamanan jelang pelantikan presiden dan wakil presiden 20 Oktober 2019 nanti. Hal itu merupakan antisipasi adanya kerentanan atau potensi kerusuhan yang bisa saja terjadi di daerah saat berlangsungnya pelantikan di Jakarta.

Wakapolda Jatim Brigjen Pol Toni Harmanto, yang datang langsung dalam simulasdi di depan gedung DPRD Kota Malang (15/10/2019) menjelaskan, polisi tetap mewaspadai aksi-aksi dari masyarakat, baik itu kelompok ataupun perorangan, yang bisa berimpilkasi pada terganggunya kondusivitas kamtibmas.

Baca Juga : Edarkan Sabu di Tengah Pandemi Covid-19, Pengedar Asal Malang Dicokok Polisi Blitar

"Kami tetap mewaspadai aksi gerakan-gerakan masyarakat yang berimpilkasi pada masalah kamtibmas," ujarnya ditemui di Polres Malang Kota (15/10/2019).

Wakapolda berharap, jelang pelantikan pemimpin negara nantinya, masyarakat bisa berpartisipasi dan membantu dalam menjaga kondusivitas daerahnya. Sehingga nantinya prosesi pelantikan berjalan dengan lancar.

"Saya berharap di Jatim aman. Tidak ada isu-isu. Namun yang jelas kami akan meningkatkan keamanan. Salah satunya dengan kegiatan ini," ucap Toni.

Dalam upaya peningkatan keamanan, polisi akan menerjunkan sekitar 1.400 personel yang tersebar di masing-masing polres  di Jatim. Wakapolda juga menyampaikan bahwa sampai saat ini, masuh belum ada titik yang riskan dikhawatirkan terjadi aksi kerusuhan. "Bekum ada sampai saat ini, insya Allah," kata dia.

Sementara itu, Kapolres Malang Kota AKBP Dony Alexander SIK MH menambahkan, unsur TNI dan Polri di Kota Malang siap untuk mengamankan pelantikan presiden dan wakil presiden pada 20 Oktober 2019.

Kegiatan simulasi keamanan yang digelar, selain sebagai bentuk latihan kesiapan pengamanan, juga menunjukan kesiapan dan sinergitas dari Forum Komunikasi Pimpindan Daerah (Forkopimda) Kota Malang.

"Fokus pengamanan nantinya bukan hanya pada gedung DPRD dan balai kota saja, melainkan di seluruh wilayah Kota Malang juga akan dilakukan pengamanan," ungkapnya.

Dalam simulasi keamanan, ada skenario jika para demonstran menolak pelantikan presiden terpilih dan melakukan aksi unjuk rasa. Di situ, massa menduduki dan memaksa untuk masuk membobol barikade polisi.

Baca Juga : Usai Bebas Ikut Asimilasi, Residivis Curanmor di Kota Malang Kembali Kambuh

Karena massa semakin beringas, akhirnya pasukan dalmas lengkap dengan membawa tameng mencoba maju meredam aksi. Namun hal itu justru menyulut aksi para pendemo dengan melemparkan batu yang disimulasikan dengan kantong berisi air.

Dan untuk mengurai massa, polisi kemudian mengerahkan kendaraan water canon yang menyemprotkan air kepada para demonstran. Setelah itu, pagar kawat berduri dipasang agar para demonstran tak masuk ditambah dengan menyiagakan unit satwa K9 Polri.