Hutan Malabar di tengah Kota Malang (Hendra Saputra)
Hutan Malabar di tengah Kota Malang (Hendra Saputra)

MALANGTIMES - Konsep hutan kota yang dicanangkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang di setiap kecamatan harus murni dan dijaga kelestariannya.

Hutan buatan yang diinginkan DLH Kota Malang untuk setidaknya mengurangi Gas Rumah Kaca (GRK) yang saat ini sedang diperangi seluruh negara di dunia.

"Dan hutan kami nanti konsepnya bukan hutan edukasi tapi murni hutan, kalau mau bikin variasi seperti jogging track berarti di sekelilingnya di luarnya, jangan di dalamnya," ujar Kepala Bidang Tata Lingkungan Hidup DLH Kota Malang, Arif Tri Sastyawan S.STP, M.Si kepada MalangTIMES.

Arif mencontohkan saat ini hutan kota yang ada di 'Bhumi Arema' adalah hutan Malabar. Ia menyayangkan karena ada track yang bisa digunakan untuk masyarakat di dalamnya. Hal tersebutlah yang membuat DLH Kota Malang ingin membuat hutan yang sebenarnya agar kualitas didalamnya maksimal dan tidak merusak potensinya.

"Seperti Malabar dibuat jogging atau seperti jalan di dalam bukan buat olahraga malah dibuat orang pacaran. Namanya hutan itu kan memanggil satwa-satwa, takutnya kalau didalam nanti takutnya ada burung atau apa diambil, dan lain sebagainya. Harapan saya tidak seperti itu," ungkap nya.

Selain itu, posisi hutan kota yang diinginkan DLH adalah lebih rendah dari jalan utama. Alasan seperti karena agar hutan kota juga menjadi sumur resapan. 

"Dan maunya saya nanti posisi hutan lebih rendah dari jalan, bukan yang lebih tinggi dari jalan. Karena untuk peresapan juga," katanya.

Lanjut Arif, ia berharap agar dalam kurun waktu kurang dari empat tahun kedepan di kepemimpinan Drs. Sutiaji sebagai Wali Kota Malang bisa segera terealisasi. Hal tersebut agar dampaknya bisa segera dirasakan oleh masyarakat.

"Minimal selama pak Walikota 4 tahun kedepan karena satu tahun kepemimpinan bapak Sutiaji sudah terlaksana,hutan kota itu sudah terbentuk, karena bikin hutan tidak seperti bikin taman yang satu hari selesai. Dan kami harapkan seperti rampal itu. Untuk saat ini kita dibantu rampal untuk memecahkan Gas rumah Kaca," pungkas nya.