Beberapa kerajinan dari hasil olahan limbah popok sekali pakai di Puskesmas Polowijen (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Beberapa kerajinan dari hasil olahan limbah popok sekali pakai di Puskesmas Polowijen (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Berbagai upaya memfasilitasi pelayanan kesehatan kepada masyarakat terus dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang. Teranyar, fasilitasi mengenai pemberdayaan STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) tengah digencarkan.

Salah satunya melalui inovasi yang digaungkan Puskesmas Polowijen, yakni berupa 'Rumah Diapers'. Rumah ini menjadi upaya Puskesmas dalam menerapkan pilar pertama dalam STBM yaitu bebas ODF atau Buang Air Besar Sembarangan (BABS) dimana nengandalkan popok bayi bekas untuk didaur ulang. Program ini bahkan menjadi yang pertama di Indonesia dalam pengolahan popok bayi bekas pakai.

Ditemui MalangTIMES, Sanitarian Pelaksana Puskesmas Polowijen Anita Resky DS menjelaskan munculnya ide tersebut lantaran kekhawatirannya akan perilaku masyarakat yang masih menerapkan BABS. Memang bukan secara langsung, tapi melalui limbah diapers.

Ia menceritakan, awal mula terbentuknya karena banyak menerima keluhan dari masyarakat mengenai kondisi kali atau sungainya kotor. Di dalamnya, terdapat banyak limbah diapers dan ketika pihak Puskesmas melakukan kerja bakti pembersihan masih ditemukan kotoran yang menempel pada popok.

"Dari situ, akhirnya kita berpikir bagaimana untuk menyelesaikan permasalahan sampah sekaligus mengedukasi masyarakatnya, tercetuslah Rumah Diapers ini," ujar dia.

Anita menjelaskan, untuk mengedukasi masyarakat dalam mengubah diri berperilaku hidup bersih dan sehat memang tidak mudah. Targetnya, kata dia bertahap mulai dari cara pembersihan hingga bisa mengedukasi dan mengajak masyarakat untuk tidak mencemari sungai.

"Kami edukasi pelan-pelan dulu, dari pembersihannya dulu. Sehingga di sini tujuan kami mengedukasi masyarakat bahwa jangan buang ke kali, karena sama aja kita BAB sembarangan. Tapi kita olah dulu kita bersihkan dulu, baru dibuang ke tempat sampah atau bisa dikirimkan ke Rumah Diapers," imbuhnya.

Apalagi bahan dari diapers ini berasal dari plastik dan susah terurai. Karenanya, pihaknya juga memberikan pengetahuan tambahan bagi masyarakat bahwa limbah diapers bisa diolah menjadi beragam bentuk kerajinan. Seperti, bunga, pot, asbak, tempat tissue, dan pernak-pernik rumah tangga lainnya.

Kemudian di bidang pertanian, nitrogel dari diapers juga bisa dimanfaatkan sebagai tempat penampungan air. Sehingga tanah yang disiram pada tanaman tidak cepat mengering.

"Dari sinilah kami ingin juga ada pemberdayaan masyarakat, jadi mereka kami ajari bagaimana mendaur ulang diapers itu untuk membuat kerajinan yang nantinya selain mengubah perilaku hidup sehat juga bisa menjadi sumber penghasilan baru buat mereka," pungkasnya.