Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

MALANGTIMES - Doa Hujan

*dd nana

1/

Kami berdandan dan mengenakan busana paling cemerlang. Sebelum kemenyan dibakar dan tetabuhan mengalir. Menuju sesuatu yang sering membuat kita menggigil dan tak pernah dipahami setiap yang masih berjalan di atas tanah.

Seseorang membisikkan aksara-aksara keramat, berulangkali, berkali-kali. Bunyinya serupa lagu, serupa gerit kayu di atas batu.  

Yang terpilih yang diikatkan pada lekuk asap dan peluh yang lirih. Oleh jemari-jemari terlentik yang diasuh aksara.

kepala menunduk, terik menjerit. Tepat, di ubun kepala. Sesajian telah utuh. Kata beberapa orang yang meloncat di palagan dengan bilah-bilah lidi yang saling berdekapan. Bergetar di telapak tangan para lelaki itu.

Tetabuhan semakin meninggi, dan tarian hujan pun di mulai. Tubuh- tubuh telanjang itu pun jadilah kanvas. Menampung setiap goresan, desis, gemelutuk nafas. 

Perkawinan aksara, kepul kemenyan, tetabuhan dan ringkik darah, menyatu dalam terik yang tepat di ubun kepala.

"Yang panas pertemukan jua dengan yang paling panas di dalam tubuh kita. Agar kau faham rasa nyaman tak begitu saja didapatkan. Biarkan aksara nantinya yang akan memberikan rasa sejuknya."

2/
Di tepi sungai Kahayan

ambillah air. Agar sesajian kita semakin membuat senang para rajan.

garam balok, uang koin, telur masak, beras dan ketan, rokok, dan ayam rebus.

Telah lengkap sejak matahari masih begitu belia, tadi. Mari, kita kembali menuju masa

Dimana tanah, tumbuhan dan hewan-hewan tak ada yang kita namakan. Tak ada yang kita petakan sebagai yang kuasa. Mari kita kembali menuju masa itu.

Karena para rajan masih menunggu kita.

Diantara sisa-sisa pepohonan dan hewan yang ketakutan mendengar gemeretak nafsu kita. Yang lebih terik dari matahari yang menggemeretakkan sumber api dan cahaya.

"Apakah mereka, tiga rajan masih setia di hutan? Setelah kita begitu lancang menyebutnya bualan."

Langkah kaki terhenti. Tapi, air sungai Kahayan dan sesajian telah di tangan.

"Tak kenal kita surut ke belakang. Walau tubuh hilang di telan masa yang akan kita datangi lagi itu."

Langit menonton iring-iringan itu. Para rajan pun duduk berkeliling, menunggu segala sesajian sampai pada waktu. 

Dan, akhirnya doa pun disyairkan. Sesajian di taruh di beranda tiga rajan pencipta hujan.

Raja Gamala Raja Tenggara, Raja Junjulung Tatu Riwut, Raja Sangkaria Anak Nyaru, kami datang.

Sungai Kahayan yang ditinggal, kini menunggu

Orang-orang kembali datang, air langit mengisi badannya yang terlentang.

*hanya penikmat kopi lokal