Pengelola Kirana Tour and Travel, Immanuel Osiyo
Pengelola Kirana Tour and Travel, Immanuel Osiyo

MALANGTIMES - Kamis (10/10/2019) dunia pariwisata Malang Raya bergejolak dengan viralnya surat edaran dari pihak Bandara Abdulrachman Saleh yang melarang beberapa armada darat pengangkut penumpang.

Bandara Abdulrachman Saleh memberi aturan selain Taksi Garuda, yakni angkutan berbayar tidak diperbolehkan menjemput atau membawa penumpang dari dalam kawasan bandara ke luar. 

Angkutan yang disebut dalam hal ini adalah angkutan berbasis online, shuttle service/rent car/travel, bus wisata dan Jeep wisata. Hal tersebut membuat Pengelola Kirana Tour and Travel, Immanuel Osiyo menganggap akan berdampak sendiri bagi pelaku usaha yang ada di sekitar bandara.

"Kalau untuk efeknya, menurut saya pribadi tidak berdampak pada wisata yang ada di Malang, karena bisa melalui pintu dari Bandara Juanda, tapi kalau berdampak pada stakeholder dari Bandara Abd Saleh pasti iya, seperti warung, oleh-oleh, pijat refleksi dan sebagainya," kata Immanuel Osiyo kepada MalangTIMES.

"Jadi yang perlu dipertimbangkan adalah teman-teman yang berbisnis di Bandara Abd Saleh, itu yang ada dampaknya. Biasanya yang atur handling bagasi, lalu kawan-kawan portir juga kena dampaknya juga," imbuhnya.

Diakui Immanuel, beberapa wisatawan sebenarnya banyak yang meminta turun di Bandara Juanda karena saat ini pintu exit tol Malang sangat dekat dengan Kota Batu.

"Saya lebih seneng sebenarnya kalau turun di Surabaya sebenarnya, karena kebanyakan orang turun di Bandara Abd Saleh ini hanya kepingin tahu bagaimana sih bandara di Malang itu," katanya.

Lanjut Immanuel, menurutnya pembatasan angkutan darat untuk membawa wisatawan adalah keputusan kurang bijaksana, karena akan berdampak bagi pihak Bandara Abd Saleh maupun pariwisata Malang Raya.

"Pembatasan atau kebijakan dari Lanud menurut saya pribadi adalah kebijakan yang kurang bijaksana. Karena airport adalah kawasan terbatas, tapi kalau pembatasan untuk taksi online oke lah, karena rata-rata bandara di Indonesia membatasi untuk taksi online. 

Tetapi kalau untuk pariwisata itu sangat kurang bijaksana, bisa dibayangkan misalnya ada tamu 30 sampai 40 orang, kalau bis pariwisata dibatasi masuk kesana dan harus pakai taksi yang ada disana, bisa dibayangkan seperti apa, dan kalaupun pihak-pihak biro perjalanan harus lapor dulu, menurut kami laporan ya ini ada tanda kutip. Kalau bis pariwisata kan ya tidak mungkin mengangkut penumpang umum, pasti tamunya yang diangkut. Ini yang harus dicermati teman-teman Bandara Abd Saleh," papar Immanuel.

Dalam pembicaraan ini, Immanuel Osiyo mengatakan bahwa untuk mengatasi permasalahan ini akan segera menemukan solusi yang tepat jika pejabat Bandara Abd Saleh kembali meninjau dan mempertimbangkan lagi keputusan yang sudah dibuat.

"Saya rasa pejabat di sana sangat bijak, jadi tidak perlu mengajak bertemu. Jika mereka bersikukuh dengan surat edaran juga percuma, karena mereka yang punya wilayah, kami nurut saja. Untuk solusi secara pribadi kembali lagi tentang bijak atau tidak bijak, jadi kita orang Indonesia lebih mengerti lah. Sekarang bukan zamannya menang sendiri tapi bijak itu is the best," pungkasnya.