Ilustrasi salah satu aktivitas di room karaoke di Kota Malang (Foto:Istimewa)
Ilustrasi salah satu aktivitas di room karaoke di Kota Malang (Foto:Istimewa)

MALANGTIMES - Merebaknya tempat hiburan malam di Kota Malang tak bisa dihindari lekat dengan stigma negatif. 

Melihat kondisi ini, para aktivis mahasiswa mulai tergerak dengan mengecam keberadaan tempat hiburan malam yang dinilai meresahkan publik.

Bagaimana tidak, tempat hiburan di Kota Malang kian mendekati dan mengepung pusat pendidikan dan tempat peribadatan.

Menanggapi hal itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr H Fauzan, MPd, menyatakan dengan tegas tidak sepakat jika tempat hiburan malam berada di lingkungan pendidikan. 

Hiburan malam yang lekat dengan konotasi negatif dinilai sebagai dunia lain yang tidak dapat dikategorikan sebagai dunia pendukung iklim pendidikan.

Apalagi citra kota ini lekat iklim akademis yang terbangun berpuluh-puluh tahun. Pemerintah Kota (Pemkot) Malang seyogyanya berhati-hati agar iklim akademis tidak rusak dengan keberadaan tempat hiburan malam. 

"Dengan dalih apapun ya, saya sangat tidak sepakat. Dan kalau ini tidak hati-hati, maka arah Kota Malang itu menjadi disorientasi. Seharusnya apa yang menjadi visi misinya Pak Wali Kota Malang  perlu kita dukung untuk menjadikan Kota Pendidikan semakin diperkuat dan tentu tidak perlu dinodai," ujar dia.

Mengkritisi hal itu, pihaknya meminta seharusnya Pemkot Malang bisa menanggulangi maraknya pertumbuhan tempat hiburan ini dengan mengeluarkan kebijakan tegas tanpa takut ancaman dari pihak manapun. 

 

Terlebih, berkaitan dengan branding Kota Pendidikan itu sendiri, maka hadirnya tempat hiburan tidak akan pernah bisa dihindarkan dari hal-hal yang merusak moral bangsa.

"Saya kira siapapun akan sepakat tentang hal ini. Karena memang pendidikan, pada hakekatnya bertujuan memperbaiki moral anak bangsa. Jangan sampai dikotori oleh hal negatif," imbuhnya.

Selain itu diharapkan Pemkot Malang juga mengatur regulasi mengenai hadirnya tempat hiburan yang selama ini sudah beroperasi. 

Khususnya, di lingkungan pendidikan dan peribadatan yang tentu akan mengganggu kenyamanan publik.

"Regulasi yang mengatur tentu harus  lebih detail lagi. Dan itu tidak hanya sekadar waktu beroperasinya, tetapi juga posisi dari hiburan malam itu sendiri. Jangan didekatkan dengan dunia pendidikan dan tempat-tempat ibadah ya, umpamanya begitu," tandasnya.

Tak jauh berbeda, Rektor Universitas Islam Negeri Malang (UNISMA), Prof Dr Masykuri Msi menyatakan harus ada upaya-upaya selektif yang dilakukan Pemkot Malang terhadap pendirian-pendirian tempat hiburan malam tersebut. 

"Karena sebagai kota pendidikan, dari Pemerintah Kota yang seharusnya banyak memfilter keberadaan tempat hiburan malam. Kalau ada yang menyalahgunakan ya harus ada tindakan dari pemerintah kota," ungkapnya.

Apalagi, jika tempat seperti itu telah dianggap meresahkan sudah semestinya juga Pemkot Malang ke depan mulai memetakan kembali akan kehadiran area tempat hiburan malam tersebut. 

Salah satunya, kata dia bisa dengan melakukan diskusi bersama pimpinan perguruan tinggi di Kota Malang untuk menemukan solusi konstruktif bagi pengembangan Kota Malang sebagai kota pendidikan.

"Pemerintah Daerah menurut saya perlu berdiskusi dengan pimpinan perguruan tinggi supaya bisa memberikan masukan yang konstruktif terhadap pengembangan kota. Dan tentu di situ nanti harus ada pengawasan yang sangat ketat dari pemerintah kota sendiri, ya semacam ada SOP-nya lah kira-kira begitu," pungkas dia.