Jembatan Muharto (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Jembatan Muharto (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Kondisi Jembatan Muharto kian memprihatinkan, namun pembangunan masih urung dilakukan. Lantaran, hal itu masih terganjal APBD 2020 Kota Malang.

Proses penyusunan anggaran APBD 2020 telah dilakukan, sementara kondisi keretakan yang teejadi di area jembatan baru ditemukan. Saat ini dari data pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Malang, kondisi fisik kekuatan Jembatan Muharto hanya tersisa 40 persen saja.

Baca Juga : Sederet Megaproyek Pemkot Malang Ditunda, Termasuk Pembangunan Mini Block Office

Kekuatan tersebut diperoleh dari hasil uji forensik Fakultas Teknik Universitas Brawijaya. Sayangnya, sisa kekuatan 40 persen itu saat ini hanya bisa dilakukan upaya memperpanjang kekuatan berdirinya jembatan

Kepala DPUPR Kota Malang, Hadi Santoso mengatakan proses pembangunan baru bisa dilakukan pada tahun 2021 mendatang. Hal itu, sesuai dengan mekanisme yang ditetapkan saat ini.

"Ya kalau dengan mekanisme anggaran, tentu di tahun 2021 kami baru bisa bangun. Makannya kami juga mohon dukungan dari komisi C DPRD Kota Malang bagaimana ini segera bisa kami percepat," ujarnya ditemui saat melakukan tinjauan langsung di Jembatan Muharto, Selasa (8/10).

Dari pantauan MalangTIMES di lapangan, kondisi Jembatan Muharto terlihat pondasi mulai patah dan mengalami korosi. Ketika melintasinya, terasa getaran yang cukup kuat. Dikhawatirkan, jika dibiarkan terus menerus akan membahayakan pengguna jalan.

Upaya untuk menyiasati agar tidak menjadikan kondisi tersebut lebih parah juga telah dilakukan. Saat ini pihak DPUPR sudah mengupayakan pemberian penyangga, yang dinilai bisa memperpanjang kekuatan jembatan.

Kemudian, upaya awal ini juga masih akan dikaji apakah membahayakan pengguna jalan atau tidak. Jika relatif membahayakan, maka planning selanjutnya yang juga disiapkan dengan menggunakan Jembatan Belly. Di mana, untuk proses ini masih harus meminjam ke PUPR Provinsi atau kepada Kabupaten Malang.

Baca Juga : Persiapan Capai 90 Persen, Rusunawa ASN Siap Jadi Ruang Isolasi Pasien Covid-19

Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Soni ini menegaskan bagi kendaran besar dengan tonase di atas 3 ton dilarang melintasi kawasan Jembatan Muharto. Bahkan, pihaknya juga telah mengajukan bantuan ke Pemerintah Pusat untuk pemberian solusi.

"Sementara ini yang kami lakukan, sambil juga berupaya untuk mengajukan anggaran penggantian jembatan ya. Jadi bukan perbaikan lagi. Kami juga sudah minta ke pusat, tinggal tunggu jawabannya dulu," imbuhnya.

Kedepan, menurutnya upaya dalam pembangunan Jembatan Muharto bukan dalam hal perbaikan melainkan untuk penggantian jembatan. Mengingat saat ini struktur Jembatan Muharto bersifat komposit, gabungan antara baja dengan beton.

"Sambil kami berupaya untuk mengajukan anggaran penggantian jembatan, bukan perbaikan lagi. Kedepan ini memang harus diganti jembatan beton saja," tandasnya.