MALANGTIMES - Kondisi terkini Jembatan Muharto telah diambang krusial. Pasalnya, jembatan yang banyak dilalui kendaraan besar ini dari uji forensik  didapati hanya mencapai kekuatan 40 persen saja.

Untuk memastikan kondisi fisik Jembatan Muharto tersebut, siang ini (Selasa, 8/10) Komisi C DPRD bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Malang melakukan tinjauan ke lokasi. Dimana, kondisinya cukup memprihatinkan karena pondasi mulai patah dan mengalami korosi.

Dari pantaun MalangTIMES di lapangan, kondisi fisik jembatan juga mulai goyang. Hal ini dikhawatirkan akan membahayakan pengguna jalan yang melewati area ini jika dibiarkan terus menerus.

Ketua Komisi C DPRD Kota Malang, Fathol Arifin mengatakan hasil tinjauan kali ini memang benar mengkhawatirkan. Pihaknya meminta agar Pemerintah Kota (Pemkot) Malang segera mengambil tindakan perbaikan jembatan. Mengingat hasil forensik yang menyatakan kekuatan Jembatan Muharto tersisa 40 persen saja. 

"Kita akan beri masukan nanti mengupayakan agar Pemkot Malang segera mengambil tindakan perbaikan," ujar dia.

Saat ini, lanjut dia upaya yang dilakukan oleh DPUPR Kota Malang baru bisa memberikan penyangga. Meskipun, penyangga tersebut tidak bisa menambah kekuatan tetapi bisa memperpanjang kekuatan jembatan yang di angka 40 persen tersebut.

"Walaupun tidak menambah kekuatan minimal menahan dan memperlama kekuatan itu. Dan anggarannya cukup besar juga antara Rp 5 - RP 10 miliar, itu anggaran darutat saja. Tentang cukupnya penyangga atau total nanti nunggu hasil kajian forensik dari tim Fakultas Teknik UB," imbuhnya.

Pihaknya juga akan memberikan masukan kepada Wali Kota Malang Sutiaji, terkait dengan perbaikan jembatan tersebut. Terlebih jika upaya awal yang telah dilakukan masih dinilai mengkhawatirkan.

"Kita masukan nanti untuk mengupayakan pak wali kota supaya dimasukkan dalam BTT lah," tandasnya.

Sementara itu, Kepala DPUPR Kota Malang Hadi Santoso menyatakan selain penyangga, kendaraan besar dengan tonase di atas 3 ton juga dilarang melintasi kawasan Jembatan Muharto untuk sementara waktu sembari mengajukan anggaran penggantian jembatan.

"Sementara ini kami lakukan, sambil juga berupaya untuk mengajukan anggaran penggantian jembatan ya. Jadi bukan perbaikan lagi. Karena jika terjadi penurunan terus menerus akan mengkhawatirkan," jelasnya.

Selain itu, antisipasi lain juga disiapkan yakni dengan menggunakan Jembatan Belly. Namun, hal itu masih harus dengan melakukan pinjaman ke Provinsi atau ke Kabupaten Malang.

"Yang memiliki itu dua, dari PUPR Provinsi dan Kabupaten Malang. Jika memang upaya awal ini belum bisa mengatasi, ya kita akan menggunakan Jembatan Belly ini," pungkasnya.