MALANGTIMES - Lagi-lagi masyarakat yang memiliki usaha online atau berjualan online menjadi sasaran pelaku penipuan. Seperti yang dialami oleh Asyifa S, warga Sukun, Kota Malang yang memiliki usaha berjualan online shop baju.  Ia nyaris saja tertipu oleh pelanggannya sendiri setelah sempat teperdaya dengan sebuah struk bukti transfer bank yang dikirimkan oleh pelanggannya (2/10/2019).

Saat itu, konsumen yang mengaku bernama Nur Aini, warga Lawang, Kabupaten Malang, menghubungi korban melalui Whatsapp. Pelaku diduga mengetahui nomor korban dari media sosial. Sebab, korban juga seringkali memposting jualannya ke media sosial.

Saat itu, pelaku tanpa bertanya-tanya dan menawar harga, langsung saja mengorder 10 celana panjang, yang dijual oleh korban seharga Rp 100 ribu. Mendapat order tersebut, kontan saja membuat korban senang dan membayangkan akan mendapat uang Rp 1 juta. "Ya nggak mikir macam-macam, mikirnya memang niat bener-bener mau mau beli. Setelah itu orangnya minta segera dikirim, tapi pas saya mau ajak Cash On Delivery (COD) nggak mau, alasannya lagi ada acara," jelasnya.

Setelah itu, pelaku lantas mengirimkan sebuah alamat yang berada di kawasan Lawang, dekat dengan kawasan Stasiun Lawang. Pelaku meminta korban untuk mengirimkan barang tersebut melalui jasa pengiriman. "Kemudian saya berikan nomer rekening saya, dan pelaku ini bilangnya akan segera transfer di ATM. Setengah jam kemudian orangnya ngabari kalau sudah transfer lewat salah satu bank," paparnya.

Setelah itu, pelaku kemudian mengirimkan bukti transfer kepada korban, tertera nominal yang sudah ditransfer ke rekening korban. Disitu, korban kemudian mengecek rekeningnya melalui mobile banking. "Nah pas saya cek nggak ada yang masuk. Padahal biasanya kalau ada transferan masuk selalu ada notifikasi lewat sms. Tapi ini nggak ada. Kemudian saya tanya lagi orangnya dan bilangnya sudah ditransfer dan minta segera dikirim," jelasnya.

Disitu, pelaku terus beralasan jika mungkin saja saat itu transaksi bank sedang mengalami trouble. Pelaku terus saja mendesak korban untuk mengirimkan barang yang ia pesan. Namun karena korban masih belum percaya, jika pelaku sudah mentransfer kemudian masih menunda untuk melakukan pengiriman.

"Karena nggak saya kirim-kirim, saya malahan sempat dikatain menipu. Besok paginya saya pergi ke bank, dan coba mengecek, kemudian  tanya ke petugas dengan membawa struk itu. Tapi petugas banknya bilang itu palsu. Disitu saya langsung bersyukur nggak jadi korban penipuan," paparnya.

Setelah itu, korban kemudian mencoba menghubungi pelaku. Namun ternyata saat itu nomor pelaku sudah tidak aktif dan akun whatsappnya juga sudah tak bisa dihubungi.

Menanggapi hal itu, Ipda Ni Made Seruni Marhaeni mengimbau agar masyarakat lebih berhati-hati lagi. Saat ini kejadian-kejadian penipuan online tengah marak menyasar masyarakat dengan berbagai modus. "Lebih hati-hati dalam transaksi online. Cari tempat jualan yang memang punya rekomendasi baik. Namun lebih baik beli langsung ke toko, dimana lebih terjamin keamanan dan barangnya," pungkasnya