Diskusi bertajuk Perempuan-Perempuan Menggugat yang diisi langsung oleh penulis buku Perempuan-Perempuan Menggugat, Esthi Susanti Hudiono (tengah) yang diselenggarakan di Cafe Pustaka (Istimewa)
Diskusi bertajuk Perempuan-Perempuan Menggugat yang diisi langsung oleh penulis buku Perempuan-Perempuan Menggugat, Esthi Susanti Hudiono (tengah) yang diselenggarakan di Cafe Pustaka (Istimewa)

MALANGTIMES - Keperkasaan perempuan-perempuan Indonesia memang tak lagi diragukan. Dalam berbagai literasi Sejarah bangsa Indonesia, para perempuan perkasa itu tak pernah luput untuk dibahas. Namun sayangnya, masih belum semua perempuan perkasa yang bisa diketahui kiprahnya.

Kebanyakan anak muda hanya mengetahui beberapa nama saja. Seperti RA Kartini, Dewi Sartika, hingga yang paling baru adalah Marsinah. Masih banyak lagi memang nama-nama perempuan perkasa yang dikenal anak negeri. Tapi bagaimana dengan ketokohan perempuan jauh sebelum kemerdekaan negeri ini?

Tribhuwana Tungga Dewi, Gayatri Rajapatni, hingga Pramodhawardhani. Nama-nama itu bahkan masih asing ditelinga beberapa muda mudi. Padahal, ketokohan para perempuan itu tak pernah diragukan. Bahkan ketangkasan mereka membuat kolonialisme Belanda merasa gerah dan kocar kacir akan setiap perlawanan yang dilakukan.

"Tapi belum semua anak muda tahu akan kiprah mereka. Salah satunya mungkin dikarenakan penulisan sejarah kita selama ini masih banyak mengagungkan laki-laki," kata kreator sekaligus penulis buku Perempuan-Perempuan Menggugat, Esthi Susanti Hudiono dalam sebuah diskusi yang digelar di Cafe Pustaka pada Jumat (4/10/2019) malam.

Dia menjelaskan, peran serta perempuan Indonesia dalam pembangunan negeri ini sangat luar biasa. Melalui lukisan Seruni Bodjawati yang kemudian dia narasikan itu, Esthi menyebut jika upaya perempuan Indonesia dalam memperjuangkan haknya sebagai perempuan juga hak masyarakat yang ada di sekitar mereka amat sangat luar biasa.

"Kita bisa lihat bagaimana Inggit saat mendampingi Soekarno. Seperti apa buku yang ia berikan kepada Soekarno saat dalam penjara. Itu menunjukkan jika kualitas seorang Inggit sangat luar biasa, dan itu berpengaruh besar pada negeri ini," jelas perempuan berkacamata itu.

Bukan hanya itu, beberapa sosok perempuan luar biasa masa kini yang ditulis Esthi pun mendapat respons dari salah satu pembicara dalam diskusi singkat tersebut. Dia adalah Dosen STAB Kertarwjasa, Efi Latifah. Perempuan berambut pendek ini menyebut, kiprah perempuan Indonesia sangat luar biasa. Tanpa kecuali pengorbanan yang dilakukan hingga kini.

"Kepemimpinan perempuan dalam bidang lingkungan juga mencuat dalam diri Mama Aleta Baun dari Nusa Tenggara Timur. Beliau justru berhasil menggunakan kembali adat sebagai sarana untuk mencegah kerusakan alam yang lebih besar akibat penambangan marmer. Selain itu perjuangan berdarah-darah juga ditunjukkan oleh beberapa tokoh lain di nusantara dalam memperjuangkan hak perempuan," terang Efi.

Hal senada juga disampaikan pembicara ke tiga, praktisi isu perempuan Dinas Sosial Kabupaten TTU NTT, Mariana SA Nope. Perempuan berdarah Jawa NTT itu menegaskan, sebanyak 29 tokoh perempuan hebat dalam buku tersebut bukanlah perempuan-perempuan yang merengek meminta pengakuan dan kesetaraan pada jamannya.

"Tetapi mereka membuktikan bahwa mereka punya kemampuan, kecerdasan, dan keberanian sebagai agen pembawa perubahan sekalipun berada dalam system patriarkiyang mengsubordinasiĀ 
perempuan," imbuhnya.

Sementara itu, pembicara ke empat, mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang, Satrya Paramanandana menyampaikan jika perempuan bukan hanya sebagai sebuah objek. Melainkan juga sebagai agen perubahan yang kiprahnya tak lernah diragukan sejak dulu hingga sekarang.