MALANGTIMES - Ardi Wiranata warga Desa Banjarejo, Kecamatan Pagelaran ini hanya bisa pasrah saat diringkus polisi, Selasa (1/10/2019). Pria 31 tahun itu merupakan satu dari empat orang tersangka komplotan pencurian spesialis sekolahan di Kabupaten Malang.

Diapun menyesal membeli barang murah dari hasil tindak pidana. ”Saya tidak tahu jika monitor komputer yang ditawarkan adalah barang curian, andaikan saya tau tentu tidak mau membelinya. Tapi bagaimana lagi, sudah terlanjur diamankan polisi karena disangka sebagai penadah barang hasil curian,” kata Ardi saat ditemui wartawan MalangTIMES.com, Rabu (2/9/2019).

Seperti yang sudah diberitakan, tersangka Ardi ini merupakan salah satu pelaku komplotan pencurian spesialis sekolahan yang ada di Kabupaten Malang. Ardi diringkus polisi sebagai seorang penadah, sedangkan tiga orang tersangka lainnya diamankan polisi karena terlibat aksi pencurian.

Ketiganya adalah Ma’ali (24) dan seorang lagi masih di bawah umur yang sebut saja namanya Putra, warga Desa/Kecamatan Wajak. Kemudian seorang tersangka lainnya merupakan warga Desa Kidangbang, Kecamatan Wajak yang bernama Hariono (26).

Berdasarkan hasil penyelidikan polisi, ketiga pelaku yang terbukti melancarkan aksi pencurian ini sudah melancarkan aksinya di 18 TKP. Yakni di berbagai sekolah SD, SMP, dan SMA yang tersebar di Kecamatan Kepanjen, Kromengan, Kalipare, Gondanglegi, Wajak, Dau, Ngantang, Poncokusumo, dan Bululawang. 

”Saya membelinya dari tersangka Hariono, setiap menjualnya dia bilang kalau perangkat elektronik yang dia tawarkan adalah barang rombengan dan barang bekas dari pegadaian,” terang tersangka Ardi. 

Pria yang kesehariannya bekerja sebagai penjual perlengkapan komputer dan elektronik di wilayah Kecamatan Gondanglegi ini mengaku, jika sebagian barang yang didapat dari komplotan pencurian spesialis sekolahan tersebut sudah laku dia jual. ”Kebanyakan sudah laku terjual, yang belum laku ya ini yang disita polisi. Itu barang stok jualan yang saya beli dari tersangka pencurian,” kata pria yang berusia lebih dari kepala tiga ini, sembari menunjukkan monitor hasil curian yang disita polisi.

Ardi mengaku jika tidak semua perlengkapan komputer dan elektronik yang dibeli dari komplotan pencuri masih berfungsi. Sebab sebagian di antaranya juga ada yang sudah rusak. Sehingga barang yang agak rusak dia jual secara paketan, sedangkan yang masih normal dia jual eceran.

”Saya membeli barang dari tersangka Hariono ini kalau gak salah sudah sebanyak 5 kali. Dia menjualnya langsung rombongan, biasanya satu monitor saya beli sekitar Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu sesuai kondisinya,” jelas Ardi dengan nada menyesal.

Sementara itu, ditemui disaat bersamaan Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung mengaku, jika dari tersangka Ardi ini petugas berhasil menyita berbagai peralatan elektronik dan komputer. Diantaranya 74 monitor LCD, laptop 2, CPU komputer 9 unit, dan 5 proyektor serta berbagai perangkat elektronik lainnya. ”Beberapa barang bukti yang kami sita dari seorang tersangka penadah ini, merupakan barang hasil curian yang belum laku terjual. Kasusnya masih akan terus kami kembangkan,” tegas Ujung.

Pengembangan kasus ini, lanjut Ujung, menyusul adanya hasil penyidikan petugas jika barang yang dicuri oleh komplotan pencurian spesialis sekolahan ini ternyata sangat banyak dan bervariasi. Selain monitor LCD, laptop, CPU, dan proyektor. Komplotan ini juga menggasak mickrofon, kabel CPU, penyangga sound system, amplifier, DVD, speaker aktif, kabel mickrofon, keyboard, mouse komputer, kipas angin, pompa air, playstation, timbangan, perlengkapan ATK,dan beberapa peralatan olah raga. Semua barang curian itu didapatkan pelaku dari sekolahan yang ada di berbagai wilayah di Kabupaten Malang.

”Akibat perbuatannya tersangka Ardi dijerat dengan pasal 480 KUHP tentang penadahan barang hasil curian,” tutup perwira polisi dengan pangkat dua melati di bahu ini, saat ditemui MalangTIMES.com ketika acara rilis.