MALANGTIMES - Pada Revolusi Industri 4.0 saat ini, berbagai hal dalam aspek kehidupan telah mengalami perubahan. 

Perubahan tersebut mengarah pada digitalisasi. Baik itu dalam hal pesan makanan, pesan hotel, jual-beli,  dan segala hal lainnya telah bertransformasi pada dunia digital.

Melihat transformasi  itu, dalam dunia pendidikan tentunya juga harus mengikuti arus perkembangan teknologi yang bisa berperan banyak dalam proses pembelajaran. 

Saat ini, transformasi ke arah digital adalah menjadi keharusan agar terus eksis dan dapat menghadapi persaingan.

Melihat tuntutan dan keharusan melakukan perkembangan khususnya dalam era digitalisasi, Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama), menggelar Seminar Nasional Sains dan Teknologi (SENASTEK) dengan menghadirkan tema “Inovasi Pendidikan dan IPTEK di Era Digital”.

Prof. Dr. Ir. Marsudi Wahyu Kisworo, pemateri SENASTEK, mengatakan mengenai perkembangan ke arah digitalisasi saat ini tantangan yang dihadapi kampus adalah bagiamana menyiapkan sumberdaya manusia yang siap untuk menghadapi masa depan yang beda dengan masa sekarang. 

Kemudian yang kedua, kampus juga tengah menunggu waktu untuk mengalami disrupsi atau proses bergesernya aktivitas-aktivitas yang awalnya dilakukan di dunia nyata ke dunia maya.

Jika tak mau moderenisasi, tentu kampus akan tertinggal.

"Disrupsi dan revolusi digital itu adalah sebuah keniscayaan. Ada saatnya, nanti kampus tak perlu lagi punya gedung besar, mahasiswanya bisa belajar dari mana saja, dengan cara apa saja. Seperti salah situs jual beli online, mereka enggak punya toko, nggak punya barang, tapi di situ bisa menjual maupun membeli. Dan suatu saat, kampus juga seperti itu yang punya ilmu bisa mengajar di platform ini dan yang ingin dapat ilmu juga bisa mengakses platform ini," jelasnya.

Dari zaman Majapahit, hingga saat ini metode pembelajaran masih tradisional. 

Padahal, melihat di lapangan banyak generasi now yang sudah malas jika harus duduk diam di kelas mengikuti pelajaran. 

Banyak mereka yang justru lebih memperhatikan dan memanfaatkan internet dalam melakukan pencarian informasi dalam proses pembelajaran.

https://risetcdn.jatimtimes.com/images/2019/09/28/88098902-86d4-4fe4-b0b4-adf8b8dfb515123c66ee108a8c71.jpg

"Kampus zaman dulu cocoknya untuk mahasiswa zaman dulu. Mahasiswa zaman sekarang harus kampus sekarang, banyak menggunakan teknologi, pembelajaran berbeda, dan memberikan peran lebih aktif pada mahasiswa. Nah, di situ disebut revolusi dalam pembelajaran universitas 4.0. Kalau ada  revolusi industri 4.0, kampus juga harus ada itu yang menyiapkan mahasiswanya menghadapi masa depan sehingga tidak terkaget-kaget," paparnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan dari kalangan mahasiswa, menyambut dan masuk era digitalisasi justru mereka sudahlah sangat siap.

Namun dalam hal ini justru dari pihak kampusnya atau pengajarnya beberapa masih terlalu kolot dan gagap dalam menyambut digitalisasi.

Sehingga harus ada perubahan model bisnis dari kampus.

"Seluruh unsur kampus, pimpinan maupun seluruh pejabat dan unsur lainnya harus berupaya untuk melakukan upaya revolusi digital, menyiapkan masa depan," terangnya.

Dekan Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Dr. I Ketut Suastika, M.Si menjelaskan dalam proses pengajaran maupun pembelajaran di Unikama, FST telah melakukan langkah-langkah yang menyesuaikan dengan Revolusi Industri 4.0. 

Hal itu, juga telah ditindaklanjuti masing-masing prodi dengan peninjauan kurikulum.

"Pembelajaran atau kuliah online sudah dilakukan dan kita juga sudah mewajibkan per prodi untuk minimal 25 persen melakukan kuliah online dari jumlah pertemuan. Mulai semester ini sudah dilakukan," paparnya

Sementara itu, mengenai seminar  SENASTEK ini, merupakan seminar rutin tahunan yang digelar Unikama. 

SENASTEK dihadiri para mahasiswa, akademisi maupun peneliti dari berbagai daerah.