Petugas tengah melakukan pemadaman api karhutla di Gunung Semeru. (Foto: Dokumen BB TNBTS)
Petugas tengah melakukan pemadaman api karhutla di Gunung Semeru. (Foto: Dokumen BB TNBTS)

MALANGTIMES - Penutupan pendakian Gunung Semeru masih ditutup dan belum ada kepastian akan dibuka dalam waktu dekat. 

Mengingat, kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) itu makin meluas. 

Para calon pendaki pun diminta melakukan penjadwalan ulang pendakian.

Plt Kepala Subbag Data Evaluasi Pelaporan dan Humas Balai Besar TNBTS Achmad Arifin mengungkapkan, imbauan pendaftaran ulang tersebut ditujukan pada para calon pendaki yang sebelumnya terjadwal untuk periode 23 September-31 Oktober 2019. 

"Sehubungan ditutupnya jalur pendakian Gunung Semeru secara total dimulai pada tanggal 22 September 2019, maka bagi para calon pendaki yang telah melakukan booking online diharapkan melakukan penggantian jadwal (reschedule)," ujarnya.

Sesuai dengan SOP pendakian Gunung Semeru, lanjut Arifin, tidak ada penggantian uang yang telah dibayarkan (no refund). 

"Tanggal pendakian baru yang akan dipilih dapat dilakukan sejak tanggal awal pembukaan hingga 31 Desember 2020," sebutnya. 

Untuk pergantian tanggal harus sesuai dengan lama durasi yang telah dijadwalkan dan nominal pembayaran yang sama serta pada tanggal yang telah ditetapkan untuk dibuka. 

Arifin mengungkapkan bahwa tim gabungan terus melakukan upaya pemadaman kebakaran yg terjadi di wilayah kerja Resort PTN Ranupani, SPTN 3 Senduro, Bidang PTN Wil 2 Lumajang.

"Hingga Rabu (25/9/2019) luas terdampak kebakaran mencapai 60,4 hektare. Lokasi kebakaran di Arcopodo, Kalimati, Kelik, Gunung Kepolo, Oro-Oro Ombo, dan Pangonan Cilik telah berhasil dipadamkan," terangnya.

Sedangkan beberapa titik api di lokasi Pusung Gendero, Ayek-Ayek, Ungup-Ungup, dan Batu Tulis masih dalam proses pengendalian dan berpotensi meluas. 

Vegetasi yang terbakar di dominasi oleh tumbuhan bawah (semak-semak), kirinyuh, kemlandingan, pakis, akasia, dan cemara gunung. 

"Hal ini dipengaruhi faktor angin yang sangat kencang, dan berada di lokasi bertebing serta berbukit," ujarnya. 

Tim gabungan yang melakukan pemadaman kebakaran berjumlah 62 orang terdiri dari petugas TNBTS, TNI-POLRI, BPBP Lumajang, Linmas Pasrujambe, komunitas Porter Desa Duwet, Desa Ranupani, Saver, dan Gimbal Alas.

Teknik upaya penanggulangan terus dilakukan oleh tim gabungan secara bergantian dengan strategi pergantian tim. 

"Kondisi pos pendakian di Ranupani saat ini sudah tidak ada aktivitas pendakian atau steril dari para pendaki," paparnya.

Pemadaman dilakukan dengan mendekati titik api yg bisa dijangkau. Kemudian, menggunakan alat pemadaman seperti jet shooter, gepyok atau ranting pohon. 

"Untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran tim gabungan membuat sekat pada medan datar, sedang pada medan tebing terjal dan sulit dijangkau dilakukan pemantauan arah angin," pungkasnya.