MALANGTIMES - Komunitas Alzheimer's Indonesia (Alzi) Malang mengajak masyarakat lintas generasi untuk melakukan pencegahan dini penyakit pikun dalam rangkaian Bulan Alzheimer Sedunia yang berlangsung selama September 2019 ini. 

Selain pola makan dan gaya hidup, ternyata kepikunan juga bisa terpicu oleh minimnya aktivitas sosial. 

Direktur Medik dan Keperawatan RSJ Dr Radjiman Wediodiningrat Lawang dr Yuniar Sp.KJ mengungkapkan bahwa penyakit pikun bisa menyerang siapapun dan kapanpun. 

"Penyakit demensia atau pikun saat ini tidak hanya diidap oleh orang tua. Memang kecenderungan muncul di usia sekitar 60 tahun, tapi di Jakarta, usia 30 tahun sudah ada yang kena pikun," sebutnya.

"Kalau di Malang ini, paling muda pasien yang pernah saya tangani usia 40 tahun. Padahal, itu usia produktif kan," tuturnya usai kegiatan Eyang Day's Out, hari ini (22/9/2019) di Alun-Alun Merdeka, Kota Malang. 

Dalam kegiatan tersebut, komunitas Alzi Korwil Malang bersama Dr Radjiman Wediodiningrat Lawang menggelar peringatan Bulan Alzheimer Sedunia. 

Yuniar mengungkapkan bahwa para pekerja dengan tekanan atau stress tinggi rentan mengalami pikun di usia muda. 

"Faktornya memang ada banyak, mulai gaya hidup, pola makan, stress, memforsir kerja otak. Bahkan kecenderungan galau, memikirkan hal-hal yang tidak penting, kurang interaksi sosial, itu juga bisa memicu gejalanya," paparnya.

Meski belum ada penelitian yang komprehensif, Yuniar mengungkapkan bahwa ketergantungan bermain gadget perlu diwaspadai. 

Pasalnya, kebiasaan orang berinteraksi dengan gadget umumnya membiasakan otak untuk berpikir mendalam. 

"Orang kalau buka gadget misal baca artikel, dia nggak suka bakal langsung ganti, nggak suka postingan tertentu langsung swip, nggak butuh ditelaah dulu," tuturnya.

Hal itu berbeda ketika melakukan komunikasi verbal secara langsung. 

"Berbeda dengan orang ngobrol, misal dia nggak suka suatu topik, otak akan diajak berpikir mencari topik lain yang nyaman dibicarakan. Bagaimana merespons umpan lawan bicara, memperhatikan ekspresi, gesture, itu kan membutuhkan aktivitas sel-sel otak tertentu," urainya. 

Dia menekankan pentingnya bagi generasi muda untuk melakukan pencegahan. 

"Gaya hidup yang paling utama, olahraga, aktivitas fisik, aktivitas sosial, aktivitas mental. Pola makan juga dijaga, karena munculnya penyakit degeneratif (misalnya darah tinggi, koroner, diabetes) bisa memicu demensia," terangnya.

Sementara itu, Koordinator Wilayah (Korwil) Alzi Malang Ratu Tita Quritama Putri mengungkapkan kegiatan Eyang Day's Out tersebut dikonsep untuk memberi aktivitas bersama antara generasi milenial dengan manula. 

"Jadi kami mengajak 50  lansia dan 50 mahasiswa untuk beraktivitas bersama-sama, mulai fun walk, pemeriksaan kesehatan, dan lain-lain," terang Tita. 

Dalam kesempatan tersebut, para lansia juga diajak untuk mengenal gadget. 

Misalnya membuka Youtube, berswafoto, membuat story Instagram dan lain-lain. 

"Sehingga mereka nantinya tidak canggung diajak anak atau cucunya, ada aktivitas bersama yang bisa mereka lakukan dan mengurangi gap teknologi," pungkasnya.