MALANGTIMES - Masa kehamilan bagi ibu harus dipersiapkan sejak dini. Pasalnya, salah satu penyebab seorang anak mengalami stunting disinyalir karena kurangnya memperhatikan kesehatan dan gizi sejak usia remaja.

Di Kota Malang, kasus stunting masih dinilai cukup krusial. Apalagi, targetnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Malang menginginkan zero stunting.

Upaya memberikan informasi pencegahan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang juga sudah dilakukan. Termasuk dengan cara sosialisasi, baik kepada masyarakat langsung, lewat perantara puskesmas, penyebaran leaflet, dan masih banyak lainnya.

Nah, program lain yang dilakukan Dinkes Kota Malang yakni dengan pemberian kursus kepada calon pengantin (catin) untuk mempersiapkan diri sebagai ibu hamil. Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Kota Malang Linda Desriwati mengatakan, kursus catin menjadi satu program lewat kerja sama dengan Kementerian Agama. 

Setiap calon pengantin akan dibekali dengan informasi-informasi kesehatan yang harus dipersiapakan sebagai ibu hamil. "Permasalahan yang dibahas banyak sekali. Mulai dari gizi, kemudian reproduksi, dan bagaimana saat berhubungan suami istri," ujar dia.

Linda menjelaskan, terkait gizi, selain dengan menerapkan pola "Isi Piringku",  Dinkes juga memberikan pengetahuan mengenai kondisi kesehatan yang harus diukur saat menjadi ibu hamil. Mulai dari kondisi tubuh, rutin pemeriksaan ke dokter, dan yang lainnya.

"Ibaratnya ibu hamil itu lingkar lengan atas (lila) yang diukir dari bahu sampai siku itu minimal 23,5 cm. Kalau ini terpenuhi, maka gizi ibu dianggap bagus. Kemudian saat hamil, harus rutin melakukan pemeriksaan K1-K4 dan menjaga pola makan karena harus seimbang kebutuhan gizinya," imbuh  Linda.

Tak hanya itu. Setelah bayi lahir dengan keadaan sehat, maka seorang ibu harus bisa mempersiapkan jangka panjang kesehatan anak. Yakni, dengan memberikan ASI eksklusif minimal 6 bulan.

 "Bagaimana dengan ibu yang bekerja? Nah ini harus dipersiapkan. Dengan memompa ASI. Jadi, jangan sampai bayi usia 0-6 bulan mendapat susu formula karena usia ini adalah masa pertumbuhan luar biasa bagi bayi. Kecuali, ada indikasi medis yang memang mengharuskan ibu tidak bisa memberi ASI. Barulah boleh diganti," paparnya.

Lebih lanjut,  dengan penerapan seperti itu hingga nanti ASI dilanjutkan hingga usia anak 2 tahun dengan makanan pendamping ASI, maka pertumbuhan bayi akan bagus. Imunitas anak juga akan bagus sehingga anak juga terhindar dari stunting.

"Makannya pengetahuan ini penting. Tumbuh kembang anak kalau tidak sesuai, kan kasihan. Jadi, tidak masalah ibu bekerja, tapi harus betul-betul di-prepare, bagaimana nanti ketika ditinggal anak tetap terpenuhi gizinya dan tetap sehat," pungkas Linda.