KITAB INGATAN 74

MALANGTIMES - Kisah Tentang Kecupan

*dd nana

1/

Kunci rindu itu lidah yang saling menjelajah

dalam sebuah ciuman yang menepi pada desah

sebelum senyap membungkus bibirmu yang basah

dan aku yang sekarat menanggalkan resah.

"Aku temukan rumusan lain agar ciuman tidak membuat rindu bernanah dan berdarah-darah."

Sebuah kalimat meluncur dari bibir yang sibuk saling kecup

di sebuah sore. Dimana tirai-tirai gerimis

serupa terali rapuh yang entah membuatku mengenang cinta

menjadi latar sepasang yang tak mungkin disatukan dalam ikrar

yang melingkar di jari manis.

Ciuman itu candu, dan kita perlu bersiasat, sayang.

Jangan sampai ia gigil kedinginan karena tak disegerakan

Jangan sampai ia bara karena dahaga rindu yang dipasung jarak dan waktu.

Aku temukan rumusan lain untuk kecupan.

Sebuah lidah, merah dan basah tergantung dan menunggu

Dilumuri amarah rindu, lidah itu meminta pertemuan.

Percayalah, puan, cinta tak pernah memiliki kesabaran

saat lidahnya menepi pada bibir yang ditujunya.

Tapi maut menggantung tepat di lidah, sayang

Karena itulah kita harus bersiasat untuk memenangkan pergulatan

lidah kita dalam kecupan paling panjang paling liar

yang bibir kita pun tak pernah membayangkannya. Percayalah

telah aku temukan rumusan lain agar ciuman tak membakar

agar ciuman tak pernah menggigil kedinginan.

Serupa makanan yang tak disegerakan.

2/

Lalu, aku menciummu

mencari kita dalam sibuknya lidah 

yang menari dan diiringi gemeruh 

dada dan decakan desah serta sengal nafas.

Aku menemukan diriku yang kerap menggigil

Aku menemukanmu yang sibuk menunggu

sebuah perjamuan sunyi yang diisi oleh dua rindu

paling nyinyir dan bengal itu.

3/

Ciuman bukan sekedar menukar ludah dan lidah, bukan ?

hanya mencari kehangatan untuk bibir yang lama membiru

oleh sengat rindu yang tak pernah bisa meracik perjamuan.

Dan aku menjawab tanyamu dengan kecupan yang akan 

membuat rindu semakin menggila esok harinya.

4/

Doa kita di sebuah sore

Semoga duka tak menyelinap dan menetap

di lidah kita yang saling  membelit 

dan memberi hangat bibir yang kerap dan rapuh

dipecundangi sepi dan luka.

*hanya penikmat kopi lokal

 

Top