Lulut Edi Santoso bersama dengan koleksi manuskrip Nusantara kuno miliknya. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)
Lulut Edi Santoso bersama dengan koleksi manuskrip Nusantara kuno miliknya. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Seorang pengkoleksi manuskrip Nusantara kuno bernama Lulut Edi Santoso memamerkan 21 naskah Nusantara kuno di Perpustakaan Kota Malang, Kamis (19/9/2019).

Naskah-naskah tersebut berumur ratusan tahun. Berdasarkan tulisannya, terdapat manuskrip-manuskrip huruf pegon (bahasa Jawa yang ditulis dalam huruf Arab), Arab, dan Jawa.

"Orang banyak terkecoh ini Quran. Bukan. Karena bahasanya Jawa," ucap guru SMAN 3 Malang ini.

Manuskrip-manuskrip tersebut di antaranya Babad Demak, Babad Majapahit, Babad Tong Tya, Jenggala, Jayakengkara, dan Alquran. "Temanya rata-rata hikayat," imbuhnya.

Manuskrip-manuskrip tersebut diperoleh Lulut dari banyak lokasi, mulai dari Malang, Mataram, hingga Yogyakarta. "Untuk yang saya miliki secara keseluruhan, termasuk yang di rumah paling tua tahun 1600-an. Isinya kompilasi. Ada tasawuf, ada fikih, ada mantra-mantra. Kebetulan warisan keluarga saya sendiri," lanjutnya.

Sementara jenis kertas manuskrip-manuskrip yang dipamerkan, yakni kertas daluang, kertas Eropa, dan kertas lokal. "Daluang itu terbuat dari kulit kayu, yang saya bawa ada dua. Yang lainnya kertas Eropa. Juga ada kertas lokal," ungkapnya.

Lulut mengungkapkan, pencarian manuskrip di zaman sekarang cenderung makin sulit. Ia mendapatkan manuskrip-manuskrip tersebut dengan cara membeli.

 "Seratus persen beli. Harganya memang mahal. Karena hal itu juga banyak permasalahan. Orang sulit melepas karena dianggap sebagai jimat, sebagai warisan orang tua, atau kalau diberikan ke orang lain nanti dosa," ungkapnya.

Beberapa orang memperlakukan manuskrip-manuskrip itu dengan cara dikubur. Ada pula yang dibakar, dimusnahkan lantaran takut kualat.

Lulut meminta para ahli untuk membaca manuskrip-manuskrip tersebut. Ke depannya, ia akan mendigitalkannya dan membukukannya.

"Saya punya keinginan nanti ada teks asli saya pasangkan dengan transkripnya dan dengan translatenya. Biar orang bisa belajar," ucapnya.

Manusrip-manuskrip itu bagi Lulut begitu berharga. Maka dari itu ia tidak berniat untuk menjualnya. "Saya mengoleksi karena banyak. Agar tidak lari ke luar negeri dan tidak dibakar. Saya berniat mengembangkannya untuk berbagai generasi ke depan," kata dia.