Kepala SDN Dinoyo 1 Nurul Hidayatus Shobikhah saat menunjukkan artefak yoni yang ditemukan di SDN Dinoyo 1. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES))
Kepala SDN Dinoyo 1 Nurul Hidayatus Shobikhah saat menunjukkan artefak yoni yang ditemukan di SDN Dinoyo 1. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES))

MALANGTIMES - Setelah sebelumnya ditemukan artefak kuno yoni di wilayah SDN Dinoyo 1 pada 20 Agustus 2019, satu yoni kembali ditemukan terkubur di sana pada hari Jumat (23/8/2019).

Kepala SDN Dinoyo 1 Nurul Hidayatus Shobikhah menyampaikan, artefak yoni pertama digali pada Selasa. Nah, pada Jumat, kembali ditemukan yoni yang baru.

"Masih kelihatan permukaannya saja. Akhirnya kami lapor ke Dinas Pendidikan dan disuruh berhenti dulu (penggaliannya) untuk koordinasi dengan Museum Mpu Purwa dan Disbudpar (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata) kota," ujarnya.

Setelah membuat laporan ke Disbudpar Kota Malang, artefak yoni tersebut langsung ditinjau. Lalu, Disbudpar Provinsi Jawa Timur juga datang untuk meninjau penemuan tersebut. Baru penggalian dilanjutkan.

Selama proses penggalian ini, SDN Dinoyo 1 terus melakukan koordinasi dengan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB).  "Kemarin informasi dari Pak Dwi Cahyono (arkeolog dari Universitas Negeri Malang), ini adalah salah peninggalan dari Kerajaan Kanjuruhan," imbuhnya.

Nurul menyampaikan, Dinas Pendidikan Kota Malang berpesan agar yoni tersebut dirawat untuk sumber belajar siswa. "Nanti rencananya ini akan kami pasang banner cerita tentang yoni tersebut. Bekerja sama dengan Museum Mpu Purwa, Disbudpar, dan informasi langsung dari arkeolog untuk membuat narasinya," bebernya.

Dengan begitu, siswa-siswi bisa belajar dari banner tersebut dan dari benda aslinya. Para siswa juga bisa memanfaatkan satu ruangan untuk belajar sejarah kerajaan dengan memanfaatkan LCD.

Salah satu program SDN Dinoyo 1 memang adalah merawat situs ini untuk literasi siswa. "Harapannya anak-anak lebih mengenal sejarah. Jadi tidak melupakan sejarah masa lalu. Kemudian bisa menghargai peninggalan nenek moyang. Ternyata walaupun zaman dahulu bisa menghasilkan karya yang sebagus itu. Jadi, biar anak-anak tidak lupa sejarah," pungkasnya.