MALANGTIMES - Pengidap HIV/AIDS di Jawa Timur masih menempati posisi tertinggi, Kota Malang krusial. Ya, dari catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang posisi Kota Malang saat ini berada di urutan ke 2 setelah Surabaya.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Malang, dr Husnul Muarif mengatakan posisi tersebut cukup krusial. Dari catatan Dinkes Kota Malang, angka penemuan pengidap HIV/AIDS akumulatif dari tahun 2005 hingga Juli 2019 mencapai lebih dari 3000. 

"Ini cukup krusial, karena Kota Malang menempati posisi ke 2 di Jatim. Dari akumulasi angka pengidap HIV/AIDS tersebut memang masih ada yang tidak mengakses pengobatan," ujar dia.

Ia menjelaskan, dari 3000 lebih klien pengidap HIV/AIDS yang melakukan akses pengobatan tercatat sekitar angka 1200-an. Klien tersebut berobat di lima tempat layanan kesehatan, yakni, RS Saiful Anwar, RST Dr Sopraoen, RS Unisma Dinoyo, Puskesmas Dinoyo, dan Puskesmas Kendalsari.

"Yang mengakses pengobatan saat ini tercatat hanya sekitar 1200-an saja, di lima tempat. Untuk yang ber KTP Kota Malang hanya 30 persen saja," imbuhnya.

Menurut dia, banyak kendala yang dialami oleh masing-masing klien hingga tidak melakukan akses pengobatan. Hal itu memang tidak dapat dipungkiri, mengingat pengobatan juga harus ada semangat dari penderitanya. Padahal jika masyarakat sadar memeriksakan diri, penyebaran penyakit ini bisa ditekan. 

"Banyak kendala, pertama dari semangat klien itu sendiri. Kedua dukungan keluarga, ketiga bisa jadi akses layanan yang dianggap jauh. Kemudian dengar dari orang lain kalau obat HIV nggak enak, akhirnya malah putus pengobatan," ungkapnya.

Dinkes Kota Malang sendiri menilai jika jumlah pengidap HIV/AIDS setiap bulannya masih ditemukan kasus baru. Hal itu dilihat dari data pelayanan kesehatan di 16 Puskesmas di Kota Malang.

Dimana penemuan itu terjadi karena itikat klien yang suka rela memeriksakan diri ataupun melalui petugas kesehatan yang saat pemeriksaan timbul kecurigaan pada salah satu pasien.

Sehingga pasien memerlukan pemeriksaan lanjutan Voluntary Counselling and Testing (VCT) dan Provider-Initiated Testing and Counselling (PITC) yang akhirnya ditemukan pengidap HIV/AIDS.

"Rata-rata di 2019 ini setiap bulannya ada sekitar 30-40 kasus, tapi tetap kebanyakan bukan dari warga Kota Malang. Artinya banyak dari mahasiswa atau pekerja, atau perantau yang ngekos itu," tandasnya.