MALANGTIMES - Sepatu ataupun sandal bisa jadi merupakan salah satu fashion item yang menegaskan citra pemakainya. Jika sepatu boots atau sneaker memberi kesan sporty, beda lagi dengan sepatu dengan hak seperti model wedges, peep toe shoes, chunky, maupun open toe yang terkesan lebih feminim. Salah satu yang patut dicoba, misalnya variasi klompen cantik dengan sentuhan batik Malangan. 

Sepatu dan sandal klompen punya ciri khas, yakni bahan alasnya yang terbuat dari kayu. Selain memberi kesan etnik, juga lumayan eksentrik karena memberikan irama ketukan saat pemakainya tengah berjalan. Salah satu produsen klompen di Malang, bahkan berhasil mengumpulkan omzet ratusan juta rupiah. 

Dian Rusdianto, perajin klompen batik Malangan mengungkapkan bahwa peminat sandal dan sepatu klompen cukup banyak. Dalam satu bulan, dia bisa memproduksi sekitar 75 kodi sandal batik atau sekitar 1500 pasang berbagai jenis sepatu dan sandal. "Alhamdulillah peminatnya banyak, meski banyak orang berfikir bahwa klompen adalah sandal tradisional, tetapi dengan sentuhan batik jadi unik dan menarik," terangnya. 

Mengusung merek Dinara Wooden Heels, Dian dibantu istri dan enam orang pekerja telah eksis di pasaran selama empat tahun terakhir. Selain melayani pasar nasional, sandal klompen batik tersebut sudah menembus pasar internasional seperti Malaysia dan Jepang. "Permintaan biasanya naik pas bulan-bulan Agustus. Produksinya bisa naik 128 hingga 180 kodi, kan biasanya reseller kami juga menyetok untuk keperluan Desember di Hari IBu," sebut alumnus Universitas Muhammadiyah Malang itu. 

Saat ini produk yang dihasilkan oleh Dinara Wooden Heels cukup beragam. Mulai sandal flat, wedges hingga produk terbaru yang akan diluncurkan adalah heels. "Semua produk kami ini asli buatan tangan (handmade). Bahkan untuk batik yang ada di kayunya itu sedikit timbul karena memang buatan tangan," terang pria yang tinggal di Jalan Tlogo Suryo VI, Kota Malang itu.

Proses pembuatan dari bahan baku hingga menjadi sandal siap dipasarkan memang tak terlalu sulit. Namun, memerlukan waktu yang tak sebentar, kesabaran serta ketelitian. Sebab, sebelum diolah menjadi sandal, kayu yang sudah selesai digergaji harus dikeringkan terlebih dahulu.

Butuh proses sekitar satu bulan hingga kayu siap diproses untuk menjadi sandal atau klompen. Setelah selesai pada tahap awal, kemudian kayu yang sudah berbentuk dihaluskan dan mulai di pasang upper sandal menggunakan lem dan paku tembak. Lalu juga dipasang sol pada bagian bawah agar tak menimbulkan suara saat dipakai.

"Kalau untuk produk yang kami buat ada dua jenis yakni kelas biasa dan premium. Untuk kelas biasa bahan utamanya kayu Sono. Sementara untuk kelas premium bahan utamanya adalah kayu pinus. Kalau untuk lainya branding utama kami adalah batik," imbuhnya.

Harga yang ditawarkan juga terjangkau untuk ukuran produk hasil handmade. Untuk kelas biasa banderol dengan kisaran harga Rp 30 ribu hingga Rp 60 ribu. Sementara untuk kelas Premium dibanderol paling mahal Rp 125 ribu. "Kalau omzet, per tahunnya mencapai sekitar Rp 300 juta. Tetapi kalau per bulan kisaran Rp 25 juta hingga Rp 70 juta," pungkasnya.