Museum Sejarah Bentoel Kota Malang (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Museum Sejarah Bentoel Kota Malang (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Dijualnya Museum Sejarah Bentoel, sempat membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Malang berkeinginan untuk mengakusisi. 

Lantaran, kawasan yang berada di Jl Jl Wiromargo 32, Sukoharjo, Kecamatan Klojen Kota Malang itu memang ramai dibicarakan penggiat budaya dan dianggap sebagai salah satu aset cagar budaya.

"Bisa jadi (dibeli Pemkot Malang), kami masih mikir. Karena Malang menjadi heritage destination, dan itu belum banyak di publish bisa jadi kota melirik itu untuk dijadikan ikon. Nanti nama Bentoel-nya tetap muncul dan tidak ngerubah itu. Jadi Museum Bentoel tapi menjadi milik kota," ujar Wali Kota Malang Sutiaji saat ditemui di Balaikota Malang, kemarin (Senin, 9/9).

Dikonfirmasi hal tersebut, pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang memberikan penjelasan jika bangunan Museum Sejarah Bentoel tidak masuk sebagai kawasan cagar budaya. 

Hal itu disampaikan usai menggelar pertemuan dengan perwakilan PT Bentoel di kantos Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kota Malang, Selasa (10/9).

Kepala Disbudpar Kota Malang, Ida Ayu Made Wahyuni mengatakan memang jika suatu kawasan itu masuk dalam cagar budaya dan ada pembeli yang tidak mempertahankan hal itu, maka menjadi kewajiban pemerintah kota untuk menguasai itu. 

"Agar, koleksi-koleksi cagar budaya yang tidak bisa dipelihara dengan baik oleh masyarakat itu diserahkan saja ke Pemkot, biar Pemkot yang memelihara itu," ujar dia.

Pihaknya juga bakal menyampaikan hasil pertemuan Disbudpar dengan pihak perwakilan Museum Bentoel itu kepada Wali Kota Malang, Sutiaji sesegera mungkin.

Melihat dari kategori bangunan yang ternyata tidak masuk sebagai kawasan cagar budaya, maka hal itu bukan menjadi kebutuhan yang mendasar bagi Pemkot Malang untuk membelinya. Tapi, jika akan dijadikan aset maka masih bisa menjadi prioritas.

"Kalau bukan cagar budaya, saya rasa enggak (Pemkot tidak perlu membeli) ya. Tapi, kalau itu untuk aset ya boleh-boleh saja. Kita butuh aset, dijadikan Ruang Terbuka Hijau (RTH) juga bisa, kan RTH di kita kurang ya di Kota Malang," pungkasnya.