Pertama kali ditemukan, antusias pengunjung ke Situs Sekaran sangat tinggi, tapi kini dengan kondisi terlantar menjadi semakin berkurang warga datang (dok MalangTIMES)
Pertama kali ditemukan, antusias pengunjung ke Situs Sekaran sangat tinggi, tapi kini dengan kondisi terlantar menjadi semakin berkurang warga datang (dok MalangTIMES)

MALANGTIMES - Sejak ditemukan Maret 2019 lalu, Situs Sekaran yang terletak di Dusun Sekaran, Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, tepatnya di proyek jalan tol Seksi 5 Pakis, kondisinya saat ini semakin memprihatinkan.

Hal ini dikarenakan, sampai saat ini situs yang diduga dulunya merupakan komplek pemukiman elit era Kerajaan Majapahit, tidak jelas keberlanjutannya. Pasalnya, sampai saat ini belum atau tidak terlihat adanya tindak lanjut atas berbagai kegiatan yang pernah dilakukan.

Baik yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan Jawa Timur (Jatim) maupun Pemerintah Kabupaten Malang melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) yang waktu penemuan sangat antusias untuk mengelolanya.

Warga sekitar pun, akhirnya hanya bisa pasrah dengan tidak adanya kepastian akan dibawa kemana Situs Sekaran yang menurut berbagai arkeolog serta pemerhati sejarah, memiliki jejak sejarah penting ini.

Laporan Tinjauan Awal Situs Sekaran, menyatakan bahwa Situs Sekaran itu diduga memiliki korelasi dengan wilayah kuno Kabalan dari masa Mataram sampai Majapahit. Nama Kabalan mengingatkan pada wilayah kuno Kabalan yang dicatat dalam Kitab Pararaton. Dimana disebutkan, semasa awal Singhasari (Tumapel) pada abad ke-8 M, Kabalan merupakan tempat panepen (menyepi) sekaligus sentra perajin emas yang tersohor pada zamannya.

Pada masa Majapahit, Kabalan merupakan satu di antara dua kerajaan bawahan (vasal) di kawasan Malang Raya pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan Wikramawarddhana (abad 14-15). Wilayah ini antara lain diperintah oleh putri mahkota Hayam Wuruk, Kusumawarddhani sebagai Bhre Kabalan.

Kabalan juga disebut di dalam beberapa prasasti dan naskah-naskah sastra kuno. Prasasti yang menyebut Kabalan yaitu Dinoyo II dari 773 Saka dan 820 Saka (851 M dan 898 M), Prasasti Pamotoh dari 1120 Saka (1198 M), Prasasti Waringin Pitu dari 1369 Saka (1447 M), dan Prasasti Pamintihan dari 1395 Saka (1473 M). Adapun dalam naskah, Kabalan disebut dalam Kitab Nagarakṛtagama (ditulis tahun 1350 M) dan Serat Pararaton.

Berbagai catatan sejarah kuno itulah yang membuat situs Sekaran menjadi terbilang penting untuk dikuak dan dikelola secara jelas dan pasti. Sayangnya, hal tersebut belum terlihat adanya aksi ke arah tersebut, seperti yang disampaikan Supriyono, salah satu warga di sekitar area situs.

"Tidak terawat dan kondisinya sekarang memprihatinkan. Dulu kita antusias sekali karena ini bisa jadi wisata. Kan juga saat ditemukan digembar-gemborkan akan jadi wisata juga. Tapi, sekarang tidak ada kelanjutannya," ucap Supriyono.

Dirinya juga mengatakan, pertama kali situs ditemukan secara tidak sengaja saat pembangunan jalan tol Malang-Pandaan, semuanya bersemangat. 

"Tapi setelah itu, pergi semua dan membiarkan situs terbengkalai. Kondisinya saat ini memprihatinkan," ujarnya.

Efek dari terbengkalainya situs tersebut, juga disampaikan warga bernama Lianah yang sehari-hari membuka warung di sekitar situs. Dirinya mengatakan, saat ini jumlah yang datang ke situs semakin lama semakin menurun. 

Efeknya adalah warungnya pun semakin sepi, dengan penurunan tajam pengunjung yang sejak situs ditemukan bisa mencapai sekitar 600 orang per harinya.

"Kalau sekarang sepi sekali dengan kondisi situs yang ditelantarkan ini. Kini, paling banyak hanya lima orang yang datang. Itu pun bisa kurang," ucap Lianah.

Dirinya juga menyayangkan tidak adanya tindak lanjut dari pemerintah sampai saat ini. "kami ya menyayanginya, tapi mungkin pemerintah lebih paham," imbuhnya.

Terpisah, MalangTIMES mencoba meminta konfirmasi kepada Disparbud Kabupaten Malang melalui bidang pengembangan pariwisata. Tapi, dari jawaban yang diperoleh terkait kelanjutan situs Sekaran, Lani Masruroh Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Disparbud Kabupaten Malang, menyarankan untuk menghubungi bidang kebudayaan. 

Pun, Camat Pakis, Firmando Hasiholan Matondang, tidak terlalu banyak mengomentari atas hal itu. Dirinya hanya menyampaikan, bahwa yang menangani langsung adalah Dinas Pariwisata.

"Setahu saya belum ada penyerahan aset tersebut ke Pemkab Malang, sehingga Pemkab pun belum dapat mengelola," ucapnya.