Seminar Patah Hati Nasional: Saat Arkeolog, Guru Besar Bahasa, Rektor dan Aktivis Mengulik Tragis dan Manisnya

MALANGTIMES - Banyak pakar mungkin telah mengulik fenomena patah hati dari sisi psikologi. Tapi di Malang, hari ini (9/9/2019) para pakar lintas disiplin ilmu kembali membahas patah hati dari berbagai sisi. Mulai dari kesejarahan, budaya, humanisme, hingga keagamaan dan filsafat. 

Berlangsung di Hotel Gajahmada, Kota Malang, Seminar Nasional Patah Hati Tragis tapi Manis pun berhasil menarik perhatian audiens dari berbagai daerah. Pembicaranya terdiri dari empat pakar yakni Guru Besar Universitas Negeri Malang (UM) Prof Djoko Saryono, Arkeolog dan Sejarahwan UM M Dwi Cahyono, Founder Malang Women Writers Society (MAWWS) Aquarina Kharisma Sari, serta Rektor Unira Malang Hasan Abadi. 

Prof Djoko Saryono dalam paparannya menyampaikan makalah Budaya Patah Hati dalam Tatapan Kajian Budaya. Menurut guru besar bahasa tersebut, patah hati adalah bagian jalan hidup setiap manusia. "Saya ini jatuh cinta hanya tiga kali, tapi puluhan kali patah hati. Patah hati itu hanya rindu salah alamat, atau menjagakan hati jodoh orang lain," ujarnya membuka seminar.

Dia juga memaparkan bahwa cinta dan patah hati merupakan modus eksistensi manusia. Termasuk munculnya fenomena bucin alias budak cinta, yang merupakan upaya pembuktian cinta dengan tujuan kepemilikan. "Cinta yang romantik dalam filsafat budaya itu relasi dua manusia atau lebih. Tidak mesti laki perempuan. Bergantung budaya setempat juga, karena di Indonesia ini cenderung patriarkis, maka relasi kuasa laki-laki lebih menonjol. Cinta juga memiliki universalitas yang merupakan bagian pemertahanan eksistensi manusia," urainya.

Menurutnya, cinta dan patah hati juga menjadi tema yang abadi dalam filsafat, bahkan lagu dangdut. "Plato juga pernah menulis soal patah hati. Bahkan namanya sampai diabadikan sebagai sindrom patah hati, yakni cinta platonis atau cinta tanpa pamrih, cinta yang tak harus memiliki," sebutnya. 

Dia juga menyoroti fenomena patah hati yang harus nya menjadi salah satu fokus perhatian pemerintah. "Apakah berpengaruh, sangat. Berdasarkan data, Indeks Kebahagiaan Jawa Timur ini nomor 22 di tingkat nasional, artinya warganya masih termehek-mehek, lebih banyak di ruang tidak bahagia," ujarnya. Badan Pusat Statistik merilis bahwa Indeks Kebahagiaan Jatim berada di angka 70,7 dengan nilai tertinggi di Maluku Utara di angka 75,68. 

Sementara itu, sejarahwan dan arkeolog UM M Dwi Cahyono memaparkan soal Tradisi Patah Hati, Kajian Kesejarahan dan Arkeologi. "Patah hati ini dari akar kata, baik patah dan hati atau ati, sudah muncul di kosa kata Jawa Kuna. Tetapi dengan pemaknaan yang tidak gamblang seperti saat ini," sebutnya.

Dwi Cahyono mengungkapkan, ada fenomena patah hati yang tersurat dalam berbagai jejak kesusastraan lampau. Misalnya terkait posisi perempuan yang patah hati. "Perempuan yang menjanda di literatur yang saya dapat, tidak ada yang karena bercerai. Baik di relief atau susastra lampau, mereka menjanda kalau suami mati. Ada ekspresi yang diperlihatkan, misalnya belapati untuk ikut mati dengan suami," urainya. 

Ekspresi patah hati itu dilakukan dengan turut serta dalam kematian pasangan dengan mengakhiri hidup. "Ada istilah malebeng geni atau terjun ke dalam api. Ada juga menusukkan keris kecil atau cundrik. Kidung Sunda misalnya setelah perang Bubat, ada anggapan perempuan yang tidak ikut belapati dianggap hina saat suami mati di medan perang," terangnya.

Founder MAWWS Aquarina Kharisma Sari memaparkan soal Cinta, Patah Hati dan Humanisme. Penulis buku Sejarah Cinta ini menguraikan bahwa ada dikotomi antara cinta ibu (motherly love) dengan cinta ayah (fatherly love). "Ada kutub feminin yang diasosiasikan dengan alam, tanah, laut dengan sifat yang tanpa syarat. Sementara cinta ayah sebagai kutub maskulin berasosiasi pada dunia gagasan, benda buatan, hukum dan aturan, disiplin, penjelajahan dan petualangan, serta bersyarat," terangnya.

Penyelenggara seminar, Hanan Djalil mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut untuk melihat secara lebih luas fenomena patah hati. "Kami juga tengah merancang untuk membuka Museum Patah Hati Malang. Isinya bisa berupa surat-surat cinta, boneka, kenangan peninggalan dari mantan, dan lain-lain," pungkasnya. 

Top