Kepala BMKG Karangkates Musripan terus mengimbau masyarakat tetap siaga bencana gempa (BMKG Karangkates for MalangTIMES)
Kepala BMKG Karangkates Musripan terus mengimbau masyarakat tetap siaga bencana gempa (BMKG Karangkates for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Bencana alam berupa gempa bumi di Jawa Timur (Jatim) yang imbasnya juga berdampak ke berbagai kabupaten/kota di wilayah yang dipimpin Khofifah Indar Parawansa patut diwaspadai masyarakat.

Pasalnya, dalam dua bulan terakhir di tahun 2019 ini, yaitu Juli sampai Agustus, frekuensi gempa mengalami peningkatan dua kali lipat. Yakni, 45 kali gempa di bulan Juli dan meningkat menjadi 80 kali di Agustus 2019.

Hal ini tercatat di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Karangkates. "Ada kenaikan gempa tektonik dari Juli sampai Agustus 2019 ini. Tentunya dengan data tersebut, kita selalu mengimbau agar warga selalu waspada dan siaga," kata Kepala BMKG Karangkates Musripan.

Imbauan BMKG Karangkates tersebut, tentunya juga meliputi masyarakat Kabupaten Malang. Dimana, seperti diketahui beberapa wilayah di Kabupaten Malang merupakan zona rawan gempa bumi. Khususnya di beberapa wilayah Malang Selatan yang selama ini tercatat kerap terekam rentetan gempa terbilang sering, walaupun dalam skala kecil. 

Hal ini diperkuat dengan wilayah selatan Kabupaten Malang yang merupakan zona subduksi, yakni tempat terbentuknya deretan gunung berapi dan gempa bumi. 

Musripan melanjutkan, dengan meningkatnya frekuensi gempa, tentunya masyarakat semakin perlu ditingkatkan pengetahuan dan pemahamannya terkait mitigasi bencana. Sehingga, masih lanjut Musripan, masyarakat perlu memahami tiga langkah dalam hal itu.

"Pertama masyarakat terbiasa dengan informasi gempa dan tsunami dan terpenting mampu mengevakuasi dirinya sendiri saat menghadapi bencana," ujarnya.

Peningkatan gempa tidak hanya terjadi di Jatim, tapi juga di berbagai wilayah di Indonesia. BMKG mencatat, sampai Juli 2019 gempa tektonik telah terjadi sebanyak 841 kali. Frekuensi gempa tersebut meningkat dibanding Juni yaitu sebanyak 735 kali. Walau frekuensi gempa yang tercatat di BMKG lebih banyak terjadi di wilayah Indonesia Timur.

Tapi, tentunya dengan kondisi semakin seringnya gempa melanda di berbagai wilayah di Indonesia, menjadi perhatian khusus bagi pemerintah pusat maupun daerah. Serta tentunya bagi masyarakat yang berdomisili di wilayah-wilayah berpotensi bencana alam.

Pasalnya, selain frekuensi gempa yang terus meningkat, dampak merusaknya juga patut menjadi alarm bagi seluruh kalangan. Di bulan Juli 2019, misalnya, gempa merusak terjadi sebanyak 4 kali, yaitu Gempa Maluku Utara tanggal 7 Juli 2019 dengan magnitudo 7,1 menyebabkan beberapa rumah rusak ringan di Sulawesi Utara.

Selanjutnya, Gempa Sumbawa 13 Juli 2019 dengan magnitudo 5,5 menyebabkan beberapa rumah dan pura rusak ringan di Sumbawa. Gempa Halmahera Selatan 14 Juli 2019 dengan magnitudo 7,2 menyebabkan 13 orang meninggal dan lebih dari 2.000 rumah rusak di Halmahera Selatan. Serta gempa Bali Selatan 16 Juli 2019 dengan magnitudo 6,0 menyebabkan beberapa bangunan rumah rusak ringan dan genteng berjatuhan di Tuban, Badung, Denpasar, dan Banyuwangi.