MALANGTIMES - Baru sehari berselang usai aksi nekat Mulyono warga Desa Gampingan, Kecamatan Pagak yang nekat bunuh diri dengan cara melompat dari atas jembatan Kedungpedaringan, Kecamatan Kepanjen. Hari ini, Minggu (8/9/2019) pagi, kejadian serupa kembali terulang.

Adalah Suwignyo warga Dusun Tulusayu, Desa Sidorahayu, Kecamatan Wagir yang nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri.

”Korban ditemukan di rumahnya dalam kondisi meninggal dunia dengan cara menjerat lehernya dengan seutas tali. Diduga kuat sebelum nekat bunuh diri korban sempat mengikat tali di fentilasi pintu kamar, kemudian naik menggunakan kursi plastik sebelum akhirnya tewas dalam kondisi gantung diri,” kata Kapolsek Wagir, AKP Mei Suryaningsih, Minggu (8/9/2019) siang.

Diperoleh keterangan, aksi nekat Suwignyo ini baru diketahui pertama kali pada pukul 08.30 WIB. 

Semula Asmiyati (adik kandung korban) yang tinggal di depan rumah korban merasa curiga mengetahui pintu rumah kakaknya tertutup rapat. 

Selain itu lampu teras di rumah korban juga masih dinyalakan.

Padahal pada hari- hari sebelumnya, sejak pagi setelah azan subuh berkumandang Suwignyo nampak sudah beraktivitas di dalam rumahnya.

Merasa ada yang janggal, Asmiyati akhirnya mengetuk pintu rumah korban. 

Namun meski sudah digedor dan dipanggil berulang kali pria yang diketahui merupakan pensiunan guru tersebut, tak kunjung membukakan pintu.

Hingga akhirnya, perempuan 61 tahun itu berinisiatif masuk ke dalam rumah dengan cara paksa. 

Bersama dengan adiknya yang bernama M Abdul Gani (51), saksi mencoba untuk masuk ke dalam rumah melalui jendela.

Setelah mencukit jendela, keduanya bergegas masuk kedalam rumah. 

Setibanya di kamar korban, saksi melihat Suwignyo sudah dalam kondisi meninggal dunia. 

Dimana leher korban terjerat tali pramuka yang diikat kuat di fentilasi pintu kamarnya.

Mengetahui jika kematiannya tidak wajar, kejadian ini akhirnya dilaporkan ke perangkat desa setempat sebelum akhirnya dilanjutkan ke pihak kepolisian.

Mendapat laporan, petugas gabungan dari Polsek Wagir beserta tim medis dari puskesmas setempat diterjunkan ke lokasi kejadian. 

”Dari hasil pemeriksaan tim medis, petugas tidak menemukan luka bekas penganiayaan di tubuh korban. Kami menyimpulkan jika penyebab kematian korban murni karena gantung diri,” terang anggota polisi yang akrab disapa Mei ini.

Berdasarkan hasil penyidikan petugas kepolisian, penyebab korban nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri ini lantaran mengalami depresi. 

Selain hidup sebatang kara di rumahnya, korban juga memiliki sederet riwayat penyakit kronis.

”Korban semasa hidupnya hanya hidup sendiri di rumahnya setelah dirinya memutuskan berpisah dengan istrinya. Selain depresi karena hidup sendiri, korban diketahui juga memiliki riwayat penyakit darah tinggi dan diabetes. Dari keterangan pihak keluarga, korban juga sering mengalami depresi dan mengeluh ketakutan jika tinggal di rumah sendirian,” ungkap Mei.

Berdasarkan informasi yang dihimpun MalangTIMES.com, sebelum tinggal di rumahnya yang berlokasi di Kecamatan Wagir, Suwignyo diketahui sempat tinggal bersama istri dan anaknya di wilayah Kota Batu.

Sejak ada permasalahan keluarga yang berujung pisahnya hubungan rumah tangga, pria 65 tahun itupun memilih hijrah ke kampung halamannya yang beralamat di Dusun Tulusayu, Desa Sidorahayu, Kecamatan Wagir. 

Di sana Suwignyo sempat tinggal sendirian selama lima tahun, sebelum akhirnya ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri.

”Atas insiden ini pihak keluarga menolak jika korban diotopsi, dan bersedia membuat surat pernyataan jika kematian korban murni karena musibah,” ujar Mei kepada MalangTIMES.com.