Para Kepala SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Malang Bangkitkan Kerajaan Singosari

MALANGTIMES - Siapa pun tentunya familiar dengan cerita Ken Arok/Ken Angrok yang bertebaran di berbagai buku sejarah maupun novel. Walau, terus memantik perbedaan pandang terkait sosok Ken Arok serta sejarah hidupnya dari seorang yang diceritakan "begal" menjadi raja pertama Singosari bergelar Sri Rajasa Bathara Sang Amurwabhumi pada tahun 1222-1227 (atau 1247). 

Kisah Ken Arok dari berbagai buku sejarah inilah yang kembali diangkat dalam panggung hiburan. Bukan oleh para pemain ketoprak profesional, tapi dimainkan oleh para kepala SMP yang ada di bawah Dinas Pendidikan Kabupaten Malang.
Tidak tanggung-tanggung, 69 kepala SMP negeri dan swasta di Kabupaten Malang secara serius bermain ketoprak untuk membangkitkan ingatan terkait berdirinya Kerajaan Singosari melalui Madege Bhumi Singhasari di pagelaran ketoprak dalam memeriahkan Hari Jadi Ke-1259 Kabupaten Malang di Expo Pembangunan Malang Kabupaten.

Diceritakan bahwa Tumapel pada waktu itu menjadi daerah kekuasaan Kerajaan Kediri yang diperintah oleh Raja Kertajaya atau Dandang Gendis. Ken Arok ingin memberontak, tetapi menunggu saat yang tepat. 

Pada tahun 1222, datanglah beberapa pendeta dari Kediri untuk meminta perlindungan kepada Ken Arok karena tindakan yang sewenang-wenang dari Raja Kertajaya. Ken Arok menerima dengan senang hati dan mulailah menyusun barisan, menggembleng para prajurit, dan melakukan propaganda kepada rakyatnya untuk memberontak kepada Kerajaan Kediri.

Setelah segala sesuatunya siap, berangkatlah sejumlah besar prajurit Tumapel menuju Kediri. Di daerah Ganter, terjadilah peperangan dahsyat. Semua prajurit Kediri beserta rajanya dapat dibinasakan. Ken Arok disambut dengan gegap gempita oleh rakyat Tumapel dan Kediri.

Selanjutnya, Ken Arok dinobatkan menjadi raja. Seluruh wilayah bekas Kerajaan Kediri disatukan dengan Tumapel yang kemudian disebut Kerajaan Singosari. Pusat kerajaan dipindahkan ke bagian timur, di sebelah Gunung Arjuna.

"Kami ingin menyampaikan bahwa untuk membangun sebuah peradaban baru, tentunya membutuhkan perjuangan yang sangat berat. Begitu pula dalam konteks kekinian di sektor pendidikan, misalnya. Untuk bisa menjadi yang terbaik, butuh perjuangan keras seluruh elemen," kata Rachmat Hardjono, kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, Minggu (08/09/2019).

Sekitar 69 Kepala SMP se-Kabupaten Malang memainkan ketoprak di expo pembangunan Malang Kabupaten (for MalangTIMES)

Rachmat melanjutkan, melalui konteks itulah, para kepala SMP se-Kabupaten Malang mempertontonkan cerita perjuangan sosok Ken Arok, saat dirinya berjuang dari rakyat biasa menjadi seorang raja yang melahirkan raja-raja Jawa setelahnya.

"Intinya adalah, untuk bisa bangkit, butuh perjuangan dan komitmen tinggi mewujudkannya. Sama dengan kondisi dan tantangan pendidikan saat ini," ujar Rachmat.

Diiringi gamelan dan karawitan dari SMPN 1 Pagak, Madege Bhumi Singhasari yang disutradarai Davit Harijanto (kepala SMPN 1 Pagak) dan Agus Winarno (guru SMPN 2 Donomulyo), berjalan apik. Antusiasme penonton pun sejak acara dimulai dengan berbagai gelar tari dan ketoprak para siswa begitu membludak di pelataran luar Stadion Kanjuruhan, Sabtu (09/09/2019) malam.

Suprianto (kepala SMPN 4 Kepanjen yang berperan sebagai Ken Arok) dan Puji Hariwati (sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Malang sebagai Ken Dedes) bermain dengan baik di atas panggung serta mendapat apresiasi tinggi dari para penonton yang memadati pelataran luar Stadion Kanjuruhqn, Kepanjen.

Davit sebagai sutradara menyampaikan, ada 10 adegan dalam ketoprak yang dimainkan para kepala SMP se-Kabupaten Malang. "Ada 10 adegan dan cerita ini dimainkan pakem atau baku. Jadi, kalau tadi tidak ada guyonan layaknya ketoprak, memang kita membawakan pakem cerita Ken Arok," ujarnya.

Davit  juga menyampaikan hal serupa dengan Rachmat bahwa cerita yang diusung ke panggung memiliki korelasi dengan kondisi saat ini. Yakni, untuk mewujudkan sebuah kemajuan besar, perlu adanya kerja keras dalam perjuangan yang tentu tidak mudah.

"Kalau di cerita ditampilkan dengan peperangan sengit, saat ini kita sebagai pendidik berperang untuk mengalahkan status quo, tantangan zaman dengan perubahan cepat peradaban. Ini semua butuh perjuangan bersama dalam membangun generasi pelajar yang berkarakter baik, cerdas dan terampil," urai Davit.

Melalui kebangkitan Singosari, Dinas Pendidikan juga ingin menyampaikan bahwa tugas besar dunia pendidikan tidak hanya di pundak para guru atau pemerintah saja. Tapi, tegas Rachmat, pendidikan adalah tugas bersama seluruh elemen yang ada di Kabupaten Malang.

"Ibarat perang Tumapel dengan Kediri, Ken Arok tidak hanya sendirian. Tapi bersama masyarakat serta para brahmana yang menghasilkan kemenangan dan terbangunnya kerajaan besar bernama Singosari," pungkas Rachmat.

 

Top