Ilustrasi (istimewa)
Ilustrasi (istimewa)

MALANGTIMES - Kemarau berkepanjangan menjadikan Kota Malang banyak dilanda bencana kebakaran. Sepanjang Agustus saja, tercatat ada tujuh kasus kebakaran yang disebabkan faktor kelalaian manusia dan aris pendek listrik (korsleting).

Plt Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang Handi Priyanto menyampaikan, berdasarkan data Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kemarau diprediksi akan lebih panjang. Sehingga, hal itu dapat menyebabkan udara kering serta menambah risiko bencana kekeringan dan kebakaran.

"Agustus ada tujuh kejadian bencana dan satu bencana sosial," katanya.

Handi menjelaskan, kebakaran pertama Agustus terjadi pada lahan kosong di Mergan. Kemudian di Jalan Borobudur, Jalan Kelapa Sawit RT 02/03, Jalan Raya Gadang Gang IX, Jalan Peltu Sujono, Jalan Jakarta Dalam, dan terakhir kebakaran lahan di Jalan S. Supriyadi. Nilai kerugian dari insiden itu ditaksir senilai Rp 72 juta.

Penyebab kebakaran tersebut didominasi kelalaian masyarakat. Salah satunya adalah membuang puntung rokok sembarangan di lahan yang kering sehingga mengakibatkan kebakaran yang lumayan besar. Selain itu, berdasarkan kajian Pusdalops, banyak ditemui penggunaan stop kontak dengan ekstensi yang bertumpuk-tumpuk serta kabel tak ber-SNI (standar nasional Indonesia). "Dan itu menyebabkan terjadinya korsleting listrik," ucapnya.

Lebih jauh Handi menyampaikan, hingga akhir Agustus 2019, BPBD Kota Malang mencatat ada 129 kasus bencana. Terdiri dari 44 kasus kebakaran atau 32 persen penyumbang bencana, tanah longsor dengan persentase 32 persen dari total bencana, pohon tumbang (13 persen), angin kencang (9 persen), dan genangan air serta efek gempa dan non-alam 12 persen.

"Total kerugian hingga Rp 10 miliar lebih. Masyarakat terus kamu imbau untuk meningkatkan kewaspadaan diri," pungkas Handi.