Petugas kepolisian beserta warga saat mengevakuasi tubuh korban bunuh diri (Foto: Polsek Kepanjen for MalangTIMES)
Petugas kepolisian beserta warga saat mengevakuasi tubuh korban bunuh diri (Foto: Polsek Kepanjen for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Jajaran kepolisian yang menangani kasus seorang pria paruh baya yang nekat meloncat dari atas Jembatan Kedungpedaringan, Kecamatan Kepanjen, akhirnya menemukan fakta baru. 

Diduga kuat, korban mengalami depresi sehingga membuat dirinya nekat bunuh diri dengan cara melompat dari atas jembatan, Sabtu (7/9/2019) siang.

”Dari hasil penyidikan petugas di lapangan, diduga kuat korban nekat bunuh diri dengan cara lompat dari atas jembatan karena merasa depresi akan riwayat penyakit yang diderita korban semasa hidupnya,” kata Kanit Reskrim Polsek Kepanjen, Iptu Supriyadi.

Dugaan korban yang diketahui bernama Mulyono warga Desa Gampingan, Kecamatan Pagak ini nekat bunuh diri lantaran depresi berkepanjangan, juga dikuatkan dengan keterangan Ahmad Musdik (adik korban) dan beberapa saksi yang telah dihimpun polisi.

Dimana sebelum dinyatakan meninggal dunia dengan cara melompat dari atas Jembatan Kedungpedaringan, korban diketahui memang memiliki riwayat penyakit stroke. Lantaran tidak kunjung sembuh meski sudah sering berobat, membuat korban akhirnya nekat mejatuhkan dirinya ke dasar jembatan.

”Dari keterangan pihak keluarga, korban sering mengeluh karena penyakit stroke yang dideritanya. Bahkan korban juga sering merasa depresi dan putus asa karena penyakit yang dideritanya tak kunjung sembuh,” terang Supriyadi kepada MalangTIMES.com, Sabtu (7/9/2019).

Seperti yang sudah diberitakan, Mulyono sempat berpamitan jika dirinya hendak pergi ke daerah Bulupitu, Kecamatan Gondanglegi karena ada keperluan. Korban tidak sendirian, saat itu pria 54 tahun tersebut pergi dengan tetangganya yang bernama Agus Swarsono warga Desa Gampingan, Kecamatan Pagak.

Dengan mengendarai sepeda motor, korban dibonceng saksi menuju ke daerah Bulupitu. Setibanya di lokasi kejadian, korban meminta saksi agar menghentikan laju kendaraannya.

Mendengar permintaan tersebut, Agus Swarsono langsung menghentikan kendaraan yang dikemudikannya di pinggir jalan setelah melewati Jembatan Kedungpedaringan. ”Berdasarkan keterangan saksi, korban menyuruh berhenti karena hendak buang air kecil,” sambung Supriyadi.

Bukannya segera kencing, lanjut Supriyadi, korban yang saat itu turun dari boncengan sepeda motor justru berjalan menyisiri sekitar lokasi kejadian. Setibanya di tengah jembatan, korban nampak termenung. Merasa curiga, Agus Swarsono akhirnya menghampiri korban dan menyuruhnya agar segera melanjutkan perjalanan.

”Mendengar ajakan tersebut, korban justru titip pesan kepada saksi agar jika dirinya meninggal dunia istri korban tidak menggelar acara slametan (acara keagamaan dan tradisi masyarakat untuk mendoakan kematian seseorang),” kata Supriyadi saat menirukan pesan dari korban yang disampaikan kepada saksi Agus dengan menggunakan bahasa jawa tersebut.

Usai menyampaikan pesannya, Mulyono langsung memanjat pembatas jembatan sebelum akhirnya menjatuhkan dirinya dari ketinggian sekitar 30 meter tersebut.

Mengetahui peristiwa memilukan itu, Agus langsung mendatangi tempat dimana korban melompat. Saat dilihat dari atas jembatan, tubuh korban sudah terjatuh dan membentur bebatuan sebelum akhirnya terbawa arus Sungai Brantas.

Warga serta pengguna jalan yang mengetahui kejadian ini langsung berhamburan menyelamatkan korban. Lantaran medan yang terjal dan susah dijangkau, kejadian tersebut akhirnya dilaporkan ke pihak kepolisian.

Dengan dibantu warga, anggota Mapolsek Kepanjen sempat menuruni tebing guna mengevakuasi tubuh korban yang terbawa arus sungai. Semula korban masih nampak menghembuskan nafas. Namun saat hendak di evakuasi ke RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah) Kepanjen, korban dinyatakan meninggal saat di perjalanan.

”Pihak keluarga menolak jika korban diotopsi, hal itu disampikan melalui surat pernyataan dan mengganggap kematian korban murni karena musibah,” tutup Supriyadi.